oleh

Disnakkeswan Tuba Tingkatkan Produksi Ternak Kerbau Rawa

Harianpilar.com, Tulangbawang – Pemerintah Kabupaten Tulangbawang dalam meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas ternak kerbau rawa, dan merubah mindset masyarakat dalam memelihara kerbau rawa liar menjadi kerbau rawa kandang.

Sudah sejak lama daerah Tuba terkenal dengan kerbau liar yang hidup bebas di rawa atau lebih populer dengan kerbau rawa. Dulu masyarakat pemilik kerbau saat musim penghujan tiba, kerbau-kerbau tersebut dikandangkan dipinggir ditepi rawa dan saat musim kemarau dilepas liarkan oleh pemiliknya.

Untuk persebaran kerbau rawa terdapat dibeberapa kecamatan, populasi terbesar berada di Kecamatan Menggala dan Menggala Timur. Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Tulangbawang menunjukan bahwa populasinya di dua kecamatan ini mencapai 3.992 ekor (2014).

Jumlah tersebut menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Populasi tersebut terus diupayakan untuk ditingkatkan dengan fasilitasi dari pemerintah daerah. “Hal tersebut dilakukan karena kerbau rawa memiliki potensi yang menjanjikan menjadi salah satu unggulan bagi Kabupaten Tulangbawang yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat peternak kerbau rawa,” ujar Kepala Disnakkeswan Kabupaten Tulangbawan, Ir, Sumarno.

Melihat adanya potensi tersebut Bupati Tulangbawang, lanjut Sumarno, telah mengamanatkan kepada Disnakkeswan untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas ternak di Kabupaten Tulangbawang salah satunya adalah ternak kerbau.

Upaya peningkatan populasi kerbau dilakukan oleh Disnakkeswan melalui beberapa upaya. Pertama, melakukan pembinaan peternak dan kelompok ternak guna meningkatkan sumber daya manusianya. Kedua, melalui program peningkatan kesehatan ternak khususnya kerbau rawa salahsatunya sosialisasi pemberian dan pembuatan pakan alternatif bernutrisi tinggi bagi kerbau. Ketiga,pelayanan dan fasilitasi inseminasi buatan bagi peternak kerbau rawa. Melalui inseminasi buatan maka tingkat kelahiran kerbau rawa dapat meningkat dan kualitas bibitnya juga lebih baik daripada perkawinan alami. Keempat,pemberdayaan kelompok ternak dengan mengedepankan pendekatan sosial budaya (socio-cultural).

Melalui pendekatan sosial budaya (socio-cultural) tersebut, pemerintah daerah telah berhasil secara bertahap merubah pola pemeliharaan kerbau rawa yang ada di Kabupaten Tulangbawang. Kerbau rawa yang dulu dilepas liarkan sekarang dilakukan pengandangan. Karena sistem pemeliharaan dengan lepas liar dapat menimbulkan permasalahan baik bagi produktivitas ternak maupun masyarakat peternak sendiri. Bagi produktivitas ternak, kerbau yang akan dihasilkan akan lebih rendah produktivitasnya jika dikembangbiakkan dengan sistem pengandangan karena perlakuannya juga akan berbeda sehingga nutrisi dan pemantauan kesehatan yang diperoleh oleh kerbau juga akan berbeda. Sedangkan dari segi masyarakat peternak sendiri dapat menyebabkan konflik. Hal tersebut dapat terjadi karena perebutan kerbau rawa, lahan penggembalaan maupun akibat dari kerusakan terhadap tanaman atau hal lain yang disebabkan oleh kerbau rawa yang dilepasliarkan. Kini peternak Kita, mulai beralih sistem pengembangbiakan pada kandang. Selain itu, melalui pemberdayaan dan fasilitasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah lewat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulangbawang, masyarakat peternak mulai melihat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari pengembangbiakan kerbau rawa dengan sistem pengandangan. “Potensi ekonomi tersebut adalah dari produksi daging, susu, limbah sisa dan kotoran kerbau rawa. Limbah sisa yang dimaksud berupa kulit kerbau dan tanduknya yang masih memiliki nilai ekonomi tinggi,” papar Sunmarno.

Sumarno juga menjelaskan, sekarang daging kerbau tidak hanya dijual segar untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Kini masyarakat yang difasilitasi oleh Koperasi UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten (Diskoperindag) Tulangbawang telah membuat produk olahan dari hewan kerbau rawa yaitu, dari daging kerbau dihasilkan produk abon dan dendeng kerbau yang khas kerbau rawa Tulangbawang. Susu kerbau rawa selain dikonsumsi oleh masyarakat peternak, kini telah diolah menjadi yoghurt dan mentega, sedangkan untuk limbah sisa yaitu kulit kerbau diolah menjadi rambak kulit kerbau yang dijual sebagai makanan ringan. Kemudian, tanduknya menjadi porduk kerajinan berupa souvenir.

Sedangkan dari kotoran kerbau rawa sendiri pemerintah daerah melalui Disnakkeswan bersama masyarakat telah mengembangkan Batamas (Biogas Asal Ternak Bersama Masyarakat). Produk-produk tersebut telah dipromosikan melalui kegiatan-kegiatan pameran dan promosi. (Merizal/Mar)