oleh

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi

Harianpilar.com, Bandarlampung – Konflik antara harimau sumatera liar dengan warga di sekitar hutan masih terus berlangsung. Harimau Sumatra tak hanya mengancam warga, tapi juga memangsa ternak sebagai makanannya.

Padahal harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini, dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis terancam punah (critically endagered).

Lantas, siapa yang harus diselamatkan: manusia, harimau, atau ternak yang menjadi mangsa harimau itu?

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi harimau sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 ekor saja.

“Saat ini populasi harimau sumatera kian menyusut karena berbagai ancaman termasuk adanya perburuan liar,” ujar Progam Manager WWF Indonesia Sumbagsel Job Charles, Senin (12/9/2016).

Ancaman kelestarian harimau itu, karena habitat di hutan terus mengikis akibat laju perusakan hutan (deforestasi) serta perburuan liar untuk mendapatkan bagian tubuh harimau yang diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi (hiasan).

Spesies harimau ini hanya dapat ditemukan di Pulau Sumatera, termasuk di kawasan hutan di Lampung, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

WWF mengingatkan saat ini harimau sumatera berada di ujung kepunahan karena kehilangan habitat secara tak terkendali dan berkurang jumlah spesies mangsa yang menjadi makanannya, serta perburuan liar yang masih terus berlangsung.

Laporan tahun 2008 yang dikeluarkan oleh TRAFFIC, program kerja sama WWF dengan lembaga konservasi dunia IUCN untuk monitoring perdagangan satwa liar, menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang subur dan menjadi pasar domestik terbuka di Sumatera yang memperjualbelikan bagian tubuh harimau itu.

Dalam laporan itu disebutkan paling sedikit 50 ekor harimau sumatera telah diburu setiap tahun dalam kurun waktu 1998-2002. Karena itu, direkomendasikan agar penindakan tegas segera dilakukan untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau khususnya di Sumatera.

WWF Indonesia telah bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia, industri yang mengancam habitat harimau serta masyarakat lokal untuk menyelamatkan harimau sumatera dari kepunahan. Pada 2004, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan kawasan penting Tesso Nilo sebagai taman nasional di Provinsi Riau, untuk memastikan masa depan yang aman bagi keberadaan harimau sumatera.

Tahun 2010 pada KTT Harimau di St Petersburg di Rusia, Indonesia dan 12 negara lainnya yang melindungi harimau berkomitmen dalam sebuah tujuan konservasi spesies ambisius dan visioner yang pernah dibuat yaitu TX2, untuk menambah kelipatan jumlah harimau sampai pada akhir tahun 2022.

Program Nasional Pemulihan Harimau Indonesia merupakan bagian dari tujuan global dan meliputi enam lansekap prioritas harimau sumatera, yaitu: Ulumasen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan Selatan.

WWF melakukan terobosan penelitian tentang harimau sumatera di Sumatera Tengah menggunakan perangkap kamera untuk memperkirakan jumlah populasi, habitat dan distribusi untuk mengidentifikasi koridor satwa liar yang membutuhkan perlindungan.

WWF juga menurunkan tim patroli antiperburuan dan unit yang bekerja untuk mengurangi konflik manusia dengan harimau di masyarakat lokal. (Lis/Mar)