oleh

Seminar Songsong Satu Abad Pringsewu

Harianpilar.com, Pringsewu – Seminar nasional bertajuk Menyongsong Satu  Abad Pringsewu digelar di Aula utama kantor Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Rabu (30/3/2016). Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Kabupaten Pringsewu ke-7 ini dibuka oleh Bupati Pringsewu H. Sujadi dengan menghadirkan sejumlah pembicara.

Bupati Pringsewu Sujadi dalam sambutannya menyampaikan apresiasi serta menyambut baik dan mendukung atas digelarnya seminar Menyongsong Satu Abad Pringsewu tersebut, karena melalui seminar ini tentunya akan banyak tergali berbagai informasi yang mungkin selama ini belum banyak diketahui akan fakta-fakta sejarah mengenai Pringsewu. “Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada para pendiri Pringsewu yang telah berjuang dalam membangun daerah ini,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, bila berbicara mengenai usia Pringsewu, sebagai sebuah kabupaten, Pringsewu baru genap tujuh tahun. Sementara bila kita mengacu pada keberadaan Tiyuh Margakaya sebagai desa tertua di Pringsewu, tentu usianya jauh melebihi satu abad, dimana perkampungan ini sudah ada sejak tahun 1738, atau hampir tiga abad,” katanya.

Namun bila didasarkan atas sejarah kedatangan para kolonis asal Pulau Jawa yang membuka permukiman baru yang kemudian dinamakan Desa Pringsewu pada tanggal 9 September 1925, kata bupati, maka pada tahun 2025 nanti akan berusia genap satu abad.

Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc dalam makalahnya mengungkapkan sejarah lahirnya Pringsewu berkaitan erat dengan kolonisasi di Lampung, dimana kolonisasi ini terbagi menjadi 3 fase. Fase pertama di Bagelen, Gedongtataan pada tahun 1905-1911. Kemudian fase kedua di Wonosobo, Kotaagung pada 1921-1928, serta ketiga di Metro, Sukadana pada 1931-1941. “Saya menyarankan untuk dibentuk tim khusus yang independen untuk menentukan hari jadi Pringsewu yang tepat, dengan melibatkan para ahli untuk kemudian disahkan bersama DPRD, mengingat penetapan hari jadi Pringsewu (bukan Kabupaten Pringsewu, red) pada tanggal 9 September 1925 masih diperdebatkan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwasanya Pringsewu lebih cocok untuk dijadikan sebagai kota Agropolitan.

Dr. dr. Sugiri Syarif, MPA dalam bahasannya juga menekankan pentingnya sinergitas antara pemerintah dan masyarakat. Ia juga menilai Pringsewu memiliki potensi yang besar di bidang jasa, yang di dalamnya termasuk sebagai kota cyber (Cyber City). “Pringsewu ini fengshuinya adalah sebagai kota jasa, termasuk sebagai Cyber City. Potensinya sangat besar sejak dulu, sehingga perlu regulasi yang bijak dari pemerintah daerah setempat. Untuk kecamatan lainnya di Kabupaten Pringsewu, dapat menjadi kawasan Agropolitan,” ujarnya.

Sementara itu, Prof.Dr.Sugeng P.Haryanto mengimpikan Pringsewu menjadi Kota Pendidikan. Ia juga menyarankan pemkab setempat agar dalam membuka poros jalan dapat mempertimbangkan azas manfaat bagi daerah tersebut.

Kepala Bappeda Provinsi Lampung Ir.Taufiq Hidayat dalam kesempatan tersebut juga memaparkan sejumlah rencanan program pembangunan Provinsi Lampung. Diantaranya adalah pembangunan jalan lingkar utara dan selatan, serta menjadikan Pringsewu sebagai daerah penyangga Kota Metropolitan Bandar Lampung.
Dalam pada itu, Direktur Pengembangan Wilayah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Drs.Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D dalam makalahnya bertajuk Transformasi dan akselerasi pembangunan-Sinergi kebijakan pusat, provinsi dan kabupaten/kota menekankan, yang menjadi tolak ukur keberhasilan setiap program pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat.

Kepala Bappeda Pringsewu Fadholi, M.Si menambahkan,  sejumlah pembangunan akan segera dilaksanakan oleh Pemkab Pringsewu diantaranya  pembangunan kawasan Ruang Terbuka Hijau, pembangunan Rusunawa, serta pembangunan gedung DPRD Pringsewu dan lainnya. (Sahirun/Mar)