Harianpilar.com, Pesawaran – Ketua PPS Desa Tebajawa, Paizal, diprotes anggota PPS, karena diduga memotong 50 persen tunjangan insentif sekretatiat PPS Desanya. Tunjangan kehormatan selama bulan sebesar Rp400 (200 ribu perbulan,Red), peranggota sekretariat PPS, yanga hanya direalisasikan Paizal Rp200 ribu. “Semestinya insentif yang diterima untuk dua bulan senilai Rp400 ribu. Mengapa? yang saya terima cuma Rp200 (ribu insentif 1 bulan), kata Arif, salah anggota sekretariat PPS Tebajawa menyampaikan, kepeda Harian Pilar, Kamis (12/11/2015) lalu.
Menurut Arif, pemotongan dilakukan ketua PPS Paizal, tanpa melalui musyawarah terlebih dahulu. Karenanya, insentif yang merupakan tunjangan kehormatan bagi sekretariat PPS patut dipertanyankan. “Saya tidak terima kalau hak saya diambil begitu saja. Kalau semua Ketua PPS berulah seperti ini, bagaimana pemilukada akan berjalan lancer,” ketusnya.
Lebih jauh Arif mengungkapkan, minimnya komunikasi terjalin antara ketua dan anggota sekretariat, dimungkinkan Arif dapat menghambat terselenggaranya pemilukada seperti yang diharapkan. “Contoh pada verifikasi data calon independen (Caden). Saya dan anggota sekretariat PPS lainnya, tidak tahu peruntukkan dana validasi data pemilih sebesar Rp 1.125/KTP, dan kami tidak tahu realisasinya.” Katanya.
Mendapat tudingan itu, Ketua PPS desa Tebajawa Kedondong-Pesawaran (Paizal-red) membenarkan adanya pemotongan yang dilakukannya. Hal itu dilakukan karean anggota sekretariat PPS tersebut tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. “Bener mas, dana insentif punya Arif saya potong. Sebab ia (Arif, red) nggak pernah kerja. Mestinya sebagai anggota sekretariat PPS kerja bersama yang lainnya. Dan dia (Arif-red) nggak pernah kerja. Masa orang nggak kerja dikasih duit, mas,” Tutur Paizal.
Data lain menyebutkan, insentif untuk Ketua dan sekretariat PPS Desa Tebajawa Amrullah, untuk 2 bulan rapel (september-oktober) sebesar Rp550 ribu. Sedangkan untuk anggota sekretariat PPS atas nama Asnawi, insentif untuk dua bulan yang diterima adalah nilainya sama seperti diungkapkan arif. (Fahmi/joe)









