oleh

Harga Karet Tuba Tak Sebanding Biaya Produksi

Harianpilar.com, Tulangbawang – Penurunan harga komoditas perkebunan pada tahun ini, menjadi kekhawatiran para petani karet di Kabupaten Tulangbawang, Petani pun merasa tidak bergairah karena harga karet Rp5000 per kilogram, tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani.

Harga komoditi bahan pembuat ban mobil ini diprediksi akan mengalami penurunan, hal ini disebabkan melebihnya pasokan dari pada permintaan, produksi karet alam akan mengalami surplus sedangkan permintaan akan karet dari Eropa dan China akan mengalami penurunan akibat membaiknya pasokan karet dunia. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu , tiga negara produsen karet terbesar dunia yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand telah mencapai kesepakatan memperbaiki harga karet alam dengan cara menerapkan pengurangan ekspor hingga 300.000 ton.

Dengan membaiknya produksi karet dari tiga negara tersebut akan tetapi tidak diikuti dengan permimtaan bahan baku karet di prusahan-perusahan, sehingga harga jual para petani karet kelapak karet makin ajlok hingga Rp 500/kg. Berdasarkan data dan informasi yang ada petani kebun karet yang ada di kabupaten Tuba, kini banyak yang mengubah tanaman mereka menjadi perkebunan singkong sehingga, tanaman karet kini semakin berkurang. Lamanya harga karet yang sangat rendah mebuat para petani karet menebang batang karet mereka dengan menggatikanya dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan, hal ini yang dilakukan Parman pemilik kebun karet di sungai luar Kematan Menggala Timur.

“Pohon karet saya, sudah saya potong, kini sudah berubah menjadi kebun singkong, kalau saja saya masih bertahan mengebun karet kemungkinan prekonomian keluarga kami semakin susah,” kata Parman.

Hal ini bertolak belakang dengan Suratman yang sampai saat ini masih mempertahankan perkebunan karet miliknya, Parman mengatakan, harga karet suatu saat pasti akan kembali normal, karna kebutuhan bahan baku karet semakin meningkat sedangkan produksi karet semakin menurun.

“Kalau para petani karen banyak beralih, saya pastiin harga karet dipasar dunia akan mahal kembali, makanua saya sampai sekarang tetap bertahan, walaupun kebutuhan semakin lama semakin menggila gak sebanding dengan penghasilan dari kebun karet yang saya punya” ujarnya. Parman berharap pemerintah Daerah dan Pusat dapat cepat mengambil langkah-langkah kebijakan untuk dapat memperbaiki harga karet, sehingga para petani karet dapat bergairah kembali. (rizal/joe)