oleh

Selama 6 Bulan, Petambang Labuhan ‘Nganggur’

Harianpilar.com, Lampung Timur – Selama musim kemarau, sekitar 200 hektare (ha) tambak udang di Desa Margasari, Kecamatan Labuhanmaringgai, Lampung Timur kekeringan sehingga berdampak pada petani tambak udang di Desa Margasari selama enam bulan tidak mendapatkan penghasilan.

Petani tambak udang Nyoto Suswoyo, Selasa (3/11/2015) mengatakan dia memiliki lokasi tambak udang seluas 13 hektare namun sejak kemarau petakan tambaknya mengering sehingga tidak bisa mendapat penghasilan. “Jika beroperasi, dalam satu hektare, dia bisa menghasilkan 4 kuintal dengan harga udang windu perkilogram Rp90 ribu. Total di desa kami ini ada 200 hektare tambak udang milik perorangan,” kata Nyoto.

Nyoto berharap Pemerintah Kabupaten Lamtim peduli nasib petani tambak tradisional dengan cara memperbaiki saluran air yang mengalami pendangkalan, saluran air dimaksud, yaitu saluran dari laut yang berfungsi membagi air ke lokasi tambak. Sebab, kata Nyoto, sudah 10 tahunan pendangkalan saluran air dimaksutdtidak ada perhatian dari pemerintah.

Jumlah saluran yang dikeluhkan puluhan petani sebanyak 4 titik dengan volume panjang 5 km. Biaya yang diperlukan untuk melakukan pengerukan ditaksir mencapai Rp300 juta. Jika saluran irigasi diperbaiki pemerintah, meskipun musim kemarau petani tambak bisa beraktivitas. “Tidak usah diberi bantuan bibit udang, pakan atau yang berhubungan dengan logistik petani. Kami dibantu soal saluran saja sangat merasa terbantu,” kata Nyoto. (nt/lp/joe)