oleh

Anton Suherly Tewas Di Panggung Orgen Tunggal

Harianpilar.com, Tanggamus – Liarnya hiburan organ tunggal yang sarat dengan peredaran narkoba dan minuman keras (miras) serta rentan perkelahian, menelan korban jiwa. Anton Suherli (27), tewas ditikam pria tak dikenal, saat asik berjoged irama house music khas organ tunggal. Masih belum jelas, siapa pelaku yang tega menghabisi nyawa warga Pekon Banding tersebut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Harian Pilar menyebutkan peristiwa penusukan terhadap korban terjadi pada Rabu (28/10/2015) sekitar pukul 02.00 WIB, di Dusun Tengos, Pekon Sanggi, Kecamatan Bandarnegeri Semuong (BNS). Ironisnya, hiburan organ tunggal bisa berlangsung hingga hampir subuh. Padahal instruksi Kapolres Tanggamus sudah jelas, bahwa organ tunggal hanya diperbolehkan maksimal pukul 24.00 WIB. Lantas bagaimanakah aparat keamanan maupun pekon/kecamatan setempat menjalankan fungsi kontrolnya. “Peristiwa brutal nan tragis ini, sudah sering terjadi. Seharusnya menjadi pelajaran bagi seluruh warga Tanggamus, terutama jajaran pemkab, DPRD, dan aparat kepolisian setempat. Sudah saatnya, peraturan bupati (perbup) tentang organ tunggal ditegakkan, tanpa kompromi. Siapapun dan apapun pangkat atau jabatan saiful hajatnya, organ tunggal harus mengikuti aturannya. Jika tidak, bubarkan,” kata warga, yang kesal denfgan kabar tersebut.

Ayah korban, Muhni (56) tampak sangat terpukul dengan kepergian anaknya, termasuk istri korban, Dahlia (23), yang kini harus sendiri. Muhni yang masih berduka mengatakan, bahwa dia beserta seluruh keluarga menerima kabar duka sekitar pukul 03.00 WIB. Begitu mendapatkan kabar anaknya ditusuk orang, Muhni segera membangunkan seisi rumah dan menjemput jasad anaknya di lokasi kejadian. “Saat saya tiba di lokasi, dia sudah tidak ada (meninggal). Jasadnya pun sudah kaku. Pak polisi juga sudah ramai berkumpul di sana. Saya sempat melihat luka tusukan di perutnya, kecil tapi dalam. Tadi malam saya hanya melihat satu lubang. Tapi pagi ini waktu melayat, banyak yang bilang kalau ada dua luka tusukan. Kemungkinan besar pelakunya dua orang,” beber Muhni lirih, seusai memakamkan anaknya di TPU Gunungdoh Rabu siang.

Menurut Muhni, sebelum kejadian, sekitar pukul 20.30 WIB korban bersama teman-temannya berangkat dari rumah untuk menonton organ tunggal. Merteka tidak menyangka korban akan meninggal, apalagi dengan cara yang mengenaskan seperti itu. Sebelum meninggalkan rumah, tak ada gelagat yang aneh dari korban. Karena meskipun sudah memiliki istri dan anak, korban biasa menonton organ tunggal bersama rekan-rekan seusianya. “Kalau seperti apa persis ceritanya, saya tidak tahu. Hanya saja tadi teman-temannya cerita, anak saya memang sempat ribut dengan beberapa orang. Siapa pelakunya, kami juga tidak tahu. Tapi sewaktu melayat tadi, banyak yang bilang, pelakunya ada dua orang dan sudah kenal dekat dengan anak saya. Kalau memang sudah kenal dekat, kenapa kok para pelaku itu bisa tega membunuh anak saya? Apa memang antara mereka sudah lama punya masalah? Kami pun tidak tahu, mungkin istrinyalah yang banyak tahu,” ungkap Muhni lagi, seraya menyatakan anaknya cenderung pendiam dan tertutup soal masalah pribadi.

Muhni dan segenap keluarga besarnya berharap, polisi dapat bekerja maksimal dalam mengungkap pembunuhan ini. Korban pergi meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang masih balita. Lalu terhadap para pelaku yang sudah menghilangkan nyawa korban, keluarga sangat berharap mereka dihukum setimpal.

Saat ini kepolisian tengah memburu dua orang yang diduga menjadi pelaku utama. Namun benar atau tidaknya, masih simpang-siur. Karena Polsek Wonosobo terkesan enggan memberikan keterangan terkait pembunuhan dalam organ tunggal ini. Kapolsek Wonosobo AKP Basuki Ismanto pun tidak berhasil ditemui di mapolsek. “Maaf ya, saya bersama anggota sedang sibuk memantau pemeriksaan TKP dan melakukan pengejaran terhadap tersangka. Kalau nanti sudah ada perkembangan terkini dan sudah pasti, pasti saya kabari. Tadi juga Pak Kapolres sudah turun ke TKP dan meminta semua pihak untuk bisa menahan diri, agar tidak terprovokasi,” singkat Basuki ponselnya. (imron/joe)