Harianpilar.com, Bandarlampung – Menjadi mahasiswa haruslah kritis, bukan hanya sekedar datang duduk mendengarkan diskusi di kelas, tapi mahasiswa juga harus peduli dengan sekitarnya dan hampir kebanyakan hal itu diajarkan di organisasi karena di kelas hanya mengajarkan teori.
Mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi. Ada makna spesial dari kata mahasiswa, tidak lagi menyandang kata siswa tapi ada label Maha. Maha berarti amat, yang teramat.
“Itu berarti kinerja mahasiwa itu sendiri melebihi siswa. Jika menjadi siswa masih harus mendapat bimbingan dari guru, sudah sepatutnya mahasiswa adalah orang-orang yang mandiri,” Kata Ketua Komisi Informasi, Juniardi, saat memberikan kuliah Umum, pada kegiatan Mahasiswa, Akademi Kebidanan Adila, Bandar Lampung, Rabu (2/9/2015), di Kampus Adila. By Pass, Rajabasa.
Menurut Juniardi, mandiri berarti keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain. “kamu harus berusaha keras agar dapat, sehingga bebas dari tergantunganmu kepada orang lain.” Kata Juniardi, yang diminta menyampaikan kuliah UU 1945.
Juniardi menjelaskan, banyaknya permasalahan bangsa yang tak kunjung usai bahkan terkesan makin carut marut, saat ini, disebut lantaran mahasiswa di Indonesia tak paham dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Mahasiswa dinilai perlu memahami dan menghayati, khususnya pembukaan UUD 1945 untuk memimpin bangsa.
“Kenapa kita perlu menghayati dan memahami UUD 45, karena di situ pijakan dasar, ketidakmampuan pemimpin bangsa setelah Soekarno dalam menterjemahkan tiap alinea di UUD 45. Kegagalan ini konsekuensinya apa? ya keadaan carut marut sekarang,” kata Juniardi di hadapan ratusan calon Mahasiswa Akbid Adila itu.
Juniardi menjelaskan setidaknya ada empat alinea dalam pembukaan UUD 45 yang harus dipahami bersama Pertama, pendiri bangsa ingin mengingatkan pada penerus bangsa tentang tata nilai yang dijunjung tinggi bangsa adalah kemerdekaan.
Soekarno, menjadikan kemerdekaan sebagai the highest value, di mana dia berani berkorban apa saja agar negaranya merdeka.
Selanjutnya dalam alinea kedua, dia mengatakan, dititipkan catatan kecil bahwa dalam perjalanan bangsa, kemerdekaan tidak jatuh dari langit.
“Tapi perjuangan panjang, sebagai titipan generasi selanjutnya. Kemerdekaan kita beli dengan darah dan air mata,” tambah dia.
Pada alinea ketiga, lanjut dia, kemerdekaan Indonesia terjadi lantaran restu Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini penting, karena perjuangan tak lepas dari rahmat dan restu Yang Maha Kuasa.
Oleh karenan, kampus adalah contoh kecil dari sebuah Negara. Di mana di dalam kampus juga terdapat Presiden dan Gubernur. Jika mahasiswa itu sendiri saja apatis dengan keadaan kampus, tidak peduli saat dosen tidak datang, tidak peduli dengan dengan permasalahan kampus, bagaimana kampus yang didudukinya bisa maju? “Sama ibarat jika rakyat saja apatis terhadap negeri ini, bagaimana negeri ini bisa maju? Tidak cukup hanya pihak-pihak tertentu yang peduli. Harus adanya dukungan dari semua pihaklah yang membuat maju negeri ini. Sama seperti kampus, tidak cukup hanya pihak birokrat dan sebagian mahasiswa saja yang peduli akan keadaan kampus, tetapi harus seluruh penghuni kampus.” Katanya. (Rls/JJ)









