Harianpilar.com, Tanggamus – Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanggamus 2014, dari tujuh bayi penderita gizi buruk (Gizbur) dua di antaranya meninggal dunia.
Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Wahyu Widayanti, mendampingi Kepala Dinkes Tanggamus Sukisno, Selasa (30/6/2015) mengatakan, sebenarnya tidak akan terjadi kasus gizbur, jika kepatuhan orangtua khususnya ibu untuk membawa anak balitanya ke Pos Pelayanan Terpadu (posyandu), yang telah diprogramkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus di setiap kecamatan dan kelurahan/pekon-pekon.
Sebab di Posyandu, jelasnya, balita akan diamati melalui penimbangan berat badan. Dan apabila kondisi berat badan balita turun dalam dua kali berturut- turut pertemuan posyandu, maka akan langsung dirujuk ke puskesmas untuk ditangani secara cermat. Apabila masuk dalam kategori menderita gizbur atau kurang gizi, maka diprogramkan Intervensi Gizi.
Adapun ketujuh balita penderita gizbur, tersebar di beberapa kecamatan. Antara lain, Bandarnegeri Semuong (BNS), Airnaningan, Pugung, Sumberejo, Limau, Kotaagung, dan Talangpadang. Untuk dua balita yang meninggal, satu berjenis kelamin laki-laki disertai dengan penyakit pembesaran hati atau hepatomegali. Satunya balita lainnya adalah perempuan disertai penyakit TB paru.
Wahyu Widayanti menyebutkan, penderita gizbur tahun 2014 justru meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2013, hanya terdapat lima kasus balita menderita gizbur. Dan kasus kelima balita gizbur, semuanya cepat terdeteksi dan teratasi. Setelah diberikan perawatan intensif dan intervensi gizi, semuanya pulih.
”Kami sudah berusaha keras dan intensif mensosialisasikan pentingnya membawa balita ke posyandu yang sudah ada di masing-masing pekon. Akan tetapi yang paling berperan tentunya adalah orangtua, terutama seorang ibu untuk patuh ke posyandu. Padahal di posyandu semua sudah disiapkan oleh pemerintah untuk kesehatan balita tanpa dipungut biaya,” tegasnya.
Seorang ibu yang mempunyai balita haruslah patuh membawa balitanya ke posyandu. Karena sangatlah penting guna kesehatan buah hatinya. Dampaknya, pada tahun 2014 kasus gizi buruk masih cukup tinggi, yaitu ada tujuh penderita dan dua balita di antaranya meninggal.
Itu karena kurangnya kepatuhan orangtua balita. Meskipun sebenarnya, kedua balita yang meninggal itu, bukanlah murni menderita gizi buruk. Melainkan ada penyakit penyerta lainnya yang diderita keduanya, akibat kondisi tubuh yang lemah. Sedangkan lima penderita lainnya sudah kita intervensi gizinya dan saat ini dalam kondisi baik dan sembuh.
Wahyu Widayanti menerangkan, tujuh anak penderita gizbur tersebut berusia kisaran 6 – 30 bulan. Tidak dipungkiri, usia tersebut memang sangatlah rentan terkena gizi buruk. Sebab, balita usia itu sangatlah membutuhkan asupan gizi berimbang.
Gizbur merupakan suatu kondisi balita yang berat badannya tidak sesuai dengan tinggi badan atau umurnya. Dengan Z score kurang 3 SD (sangat kurus). Hal ini disebabkan kekurangan asupan gizi yang dibutuhkan.
Penyebabnya, kondisi sakit yang terus menerus, balita sulit makan dan juga minimnya pengetahuan orangtuanya tentang pentingnya makanan bergizi bagi balita. Di posyandu sudah disediakan dan diberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI).
”Kami mengimbau kepada para orangtua balita, terutama ibu, agar proaktif ke posyandu. Para ibu bisa memanfaatkan pelayanan dan fasilitas yang telah diberikan oleh pemerintah secara cuma-cuma. Ini semua sebagai wujud kasih sayang terhadap buah hati kita,” pungkasnya. (Imron/JJ)









