oleh

Mega Proyek Tulangbawang Barat Bermasalah ‘Potret Buram’ Kepemimpinan Umar Ahmad

Harianpilar.com, Tulangbawang Barat – Terbongkarnya berbagai dugaan penyimpangan pembangunan Sesat Agung dan Islamik Center Kabupaten Tulangbawang Barat nampaknya menjadi ‘potret buram’ Kepemimpinan Umar Ahmad sebagai Bupati. Pasalnya, saat Tubarat masih dipimpin Bupati Bachtiar Basri belum pernah terdengar muncul persoalan yang menjadi sorotan publik seperti ini. Sikap tegas DPRD Tubarat yang berencana menghentikan dua mega proyek itu patut diapresiasi, dan sepatutnya diiring oleh sikap proaktif penegak hukum dengan melakukan pengusutan.

“Persoalan yang muncul di dua mega proyek kebanggaan masyarakat Tubarat itu merupakan potret buram bagi kepemimpinan Bupati Umar Achmad.Selama Tubarat dipimpin Bupati Bachtiar Basri dulu tidak pernah ada persoalan yang menjadi perhatian publik seperti ini,” ujar Koordinator Gerakan Aksi Lembaga Anti Korupsi, Saudi Romli,Rabu (24/6/2015).

Menurutnya, pembangunan Sesat Agung dan Islamic Center itu masih tahap awal, namun sudah terkuak adanya kecurangan. Hal itu mengindikasikan ada upaya untuk mengangkangi aturan dalam pelaksanaanya.

“Sejak awal ternyata pekerjaanya tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan. Itu patut diduga ada faktor kesengajaan untuk melakukan kecurangan yang berpotensi merugikan Negara. Penegak hukum harus proaktif dan mengusut masalah ini,” tegasnya.

Seperti diketahui, DPRD Tubarat melakukan inspeksi mendadak terhadap proyek pembangunan Islamic Center dan Sesat Agung Tubaratn yang diduga kuat sarat penyimpangan. Dalam sidak ini, para wakil rakyat itu menemukan banyak kejanggalan baik dari segi kualitas bahan bangunanya maupun kualitas pekerjaanya. Selain menemukan tiang pancang yang tidak maksimal, para anggota DPRD Tubarat juga menemukan lantai untuk meletakkan cakar ayam tidak menggunakan batu 1.2 dan 2.3. Bahkan bahan bangunan yang di gunakan dalam pelaksanaan pembangunan Islamice Center dan Sesat Agung diragukan kualitasnya, baik dari pasir maupun batunya. Parahnya, kedua proyek ini juga tidak memiliki papan proyek, papan proyek justru ada di dalam lokasi camp bangunan.

Ketua Komisi C DPRD Tubarat, Paisol. SH, mengakui pihaknya kecewa dengan pelaksana pembangunan Islamice Center tersebut. Selain tiang pancang yang terpasang tidak maksimal, cakar ayam tidak memiliki kekuatan dalam mengunci pondasi bangunan. Bahan bangunan juga dinilai tidak masuk standar untuk pembangunan. Paisol menjelaskan, anggota dewan yang melakukan sidak merupakan lintas komisi, yang terdiri dari komisi A,B,C yang tergabung secara bersama, dalam melaksanakan pengawasan terhadap pembangunan di wilayah setempat. Ketidak beresan pengerjaan kedua proyek ini juga diakui oleh pihak pekerja.

“Kami akui ada kekeliruan, kontroling spek pekerjaan terhadap lantai kami kira tidak menggunakan Beton mutu K setelah kami cek ternyata dalam speknya memang menggunakan. Maka dari itu ini sudah kami perbaiki,” kilah Alek selaku Pelaksana Lapangan dari Perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut kepada sejumlah awak media baru-baru ini. Dan sangat lebih mencengankan dan semakin menambah kuatnya dugaan adanya permainan dalam proyek tersebut setelah Alek selaku Pelaksana kegiatan dari Rekanan menyatakan bahwa kesalahan tersebut baru pihaknya ketahui setelah adanya kunjungan dari Anggota DRPD Tubarat dalam bentuk Sidak.

“Kemarin kita dapat teguran dari dewan, maka apa yang disampaikan setelah kita pelajari dan sesuaikan dengan RAP ternyata salah maka kami langsung memperbaikinya. Bahkan jika hal tersebut memang kita ketahui maka pastinya akan kami perbaiki,” pungkasnya. (Epriwan/Juanda)