Harianpilar.com, Bandarlampung – Albert Alam menilai maraknya prostitusi online akibat telah terjadi depresi yang mulai dialami masyarakat dan pelajar. Salah satu indikatornya, yakni timbulnya gaya hidup dan sifat konsumerisme. Dengan kondisi seperti ini, negara harus segera hadir untung membentengi supaya kegiatan seperti ini bisa diminimalisasi.
“Prostitusi online terjadi, ditengarai akibat masyarakat Indonesia memasuki tahap ‘galau’. Ini harus segera dicegah, supaya anak-anak kita tidak semakin kebablasan,” ungkap anggota Komisi IV DPRD Kota Bandarlampung ini, Selasa (12/5/2015).
Salah satu bentengnya, sebut dia, yakni dengan melakukan pemahaman melalui pendidikan agama, pendidikan rumah dan pendidikan sekolah. Agama harus jadi pondasi setiap kehidupan masyarakat. Pendidikan rumah sangat penting untuk meningkatkan mental anak-anak.
Sedangkan pendidikan rumah, terang dia, seperti pelajaran yang disesuaikan dengan pribadi masing-masing anak. Jadi, anak diajarkan kembali kepada hal yang kultur. Misalnya, soal bercocok tanam, menggembala hewan ternak, atau mengajarkan soal minat dan bakatnya.
Begitu juga dengan anak perempuan. Mereka, harus diberi kesibukan yang nyata. Seperti, memasak, menenun, menjahit. Tapi, tak hanya di rumah, ajaran ini pun harus diterapkan di sekolah.
“Hal lain yang juga harus diubah, yakni mengembalikan pendidikan ke hal yang lebih kultur. Jangan biarkan, anak-anak hanya diberi harapan palsu soal duniawi melalui pelajaran-pelajaran dalam buku,” cetus dia.
Selama ini, menurut dia, pembelajaran di sekolah hanya untuk meningkatkan intelektual siswa saja. Padahal, anak-anak sudah harus diberi pelajaran mengenai kecapakan emosional supaya tak timbul kenakalan.
Dengan terus dijejali pelajaran formal, tambah dia, mental anak-anak semakin lemah. Tak heran, jika saat ini banyak anak-anak yang terjerumus pada hal negatif. Misalnya, terlibat tawuran, jadi pelaku kriminal, dan perempuan terjebak dalam dunia hitam prostitusi.
Albert menambahkan, dengan banyaknya kasus kenakalan pelajar mengisyaratkan jika pola pendidikan saat ini sudah tidak efektif lagi. Dengan begitu, sistem pendidikan di Indonesia saat ini sudah harus diubah.
“Pendidikan sekarang terlalu dipaksakan. Pasalnya, sejak dini, anak-anak sudah dituntut harus bisa belajar supaya nilai (angka) di buku rapor mereka bagus. Seharusnya, pendidikan itu mengedepankan kultur. Supaya, mental mereka semakin kuat,” pungkasnya. (Lia/JJ)









