Harianpilar.com, Bandarlampung – Warga RT 10 Lk II, Kelurahan Durian Payung, Kecamatan Tanjungkarang Pusat (TkP) menolak keberadaan makam mantan Kepala Yayasan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Daelami, yang berada di Gang H Rasam. Warga khawatir, ke depan jumlah makam akan bertambah, mengingat lokasi makam Daelani sudah dipagar.
“Ya kalau makam Pak Daelami aja yang di sana enggak apa apa, kita izinin karena kan memang sudah komunikasi kemaren, tapi ini dibangun pagar-pagar. Kami khawatir nanti kalau tempat itu dijadiin makam keluarga, pasti bakal nambahkan jumlahnya,” ujar warga sekitar Siswadi, saat ditemui di ke diamannya, Minggu (5/4/2015).
Dijelaskannya, jika pada tahun 2008, warga memang tidak setuju, jika tanah yang berada di lingkungan mereka tersebut akan dijadikan lokasi pemakaman oleh keluarga Almarhum Daelami. Namun setelah 2 orang perwakilan keluarga meminta izin kepada warga untuk mengebumikan Daelami di lokasi mereka mengizinkannya. Namun bukan untuk pemakaman keluarga.
“Ya malem waktu pak Daelami akan dimakamkan, mereka kan pernah komunikasi ke warga, ya kami dengan rasa kemanusiaan mengizinkan jika hanya Pak Daelami yang dimakamkan di sana. Bahkan 2 orang anak Pak Daelami yang minta izin itu juga sepakat kalau hanya Pak Daelami yang akan dimakamkan di sana, bukan untuk keluarga,” paparnya, seraya menjelaskan jika 2 orang anak almarhum Daelami tersebut sepakat jika akan membuat perjanjian dengan warga, jika hanya Daelami yang akan dimakamkan di sana, namun perjanjian tersebut belum sempat dibuat.
Menurut Siswadi, seharusnya sebelum membangun pagar di lingkungan makam tersebut, pihak keluarga Daelami harus meminta izin pada lingkungan sekitar, sepakat atau tidak dengan pembangunan makam peribadi itu, atau berkomunikasi tentang pembangunan pagar tersebut untuk tujuan apa, sehingga warga tahu dan tidak khawatir.
“Seharusnya mereka izin dulu lah dengan warga sekitar, sepakat atau nggak, atau minimal komunikasi pagar itu dibuat gunanya apa, sehingga warga enggak jadi khawatir gini, kan kita khawatir itu bakal di jadiin pemakaman keluarga,” terangnya.
Sementara warga lainnya, Hengki juga menolak jika lokasi tersebut akan dibangun pemakalam pribadi, pasalnya warga sekitar yang tinggal di sekitar lokasi pasti tidak nyaman dengan keberadaan pemakaman pribadi tersebut.
Selain itu menurutnya, jika lokasi tersebut benar akan dijadikan pemakaman keluarga, warga juga khawatir sebab hal itu bisa saja membuat, nilai NJOP tanah sekitar akan drastis turun.
“Ya pasti harga tanah disini akan turunlah mas, kita juga kan nggak mau harga tanah di sini merosot gara-gara hal itu,” tegasnya, seraya menjelaskan jika fondasi di sekitar makam tersebut dibuat hanya untuk menayan tanah supaya tidak turun ke bawah.
“Ya kemaren saya suruh karyawan saya untuk nanya pondasi itu mau dibangun untuk apa, katanya supaya tanahnya enggak turun, kan lokasi pemakamannya miring,” terangnya. (Buchari/JJ).









