oleh

Dinas Pertanian Pesawaran Indikasi ‘Kejahatan’ Anggaran

Harianpilar.com, Pesawaran – Kompleknya persoalan terkait berbagai proyek milik Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Pesawaran dinilai bukan persoalan biasa, melainkan ada indikasi kejahatan anggaran. Sebab, selain terjadi hampir setiap tahun, masalah yang muncul juga diduga terencana dan melibatkan banyak pihak.

Beberapa persoalan Distanak Pesawaran yang dinilai sudah pada titik memprihatinkan adalah proyek pengadaan beni tahun 2013 senilai Rp150 juta yang diduga fiktif, masalah pengadaan handtractor tahun 2014 yang tidak dibagian ke petani, dan dugaan bagi-bagi proyek tahun 2015.

Direktur Eksekutif Sentral Investigasi Korupsi Akuntabilitas Hukum dan HAM (SIKK-HAM), Handri Martadinyata.SH, mengatakan, ada tiga aspek yang harus diperhatian dari masalah yang melilit Distanak itu yakni aspek penyebab, pelaku dan motif.

“Hampir setiap tahun berarti Dinas Pertanian Pesawaran terbelit masalah. Artinya penyebabnya tidak bisa dikatakan akibat aspek kelalaian atau humas error, karena berlangsung hampir setiap tahun. Kalau hanya sekali terjadi mungkin bisa dikatakan kelalaian,” ujar Handri, saat dimintai tanggapannya,Selasa (17/3/2015).

Berbagai masalah itu, lanjutnya, juga tidak mungkin jika hanya dilakukan oknum atau satu pihak saja. Sebab, proyek itu berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan teknis,”Artinya aspek kebijakan dan aspek pelaksana teknis itu pihak yang berbeda atau lebih dari satu pihak. Jadi tidak masuk akal kalau hanya dilakukan satu orang saja,” terangnya.

Terakhir, terangnya, faktor motif kuat dugaan ada kesengajaan atau direncanakan,”Kan aspek penyebab kuat dugaan bukan karena lalai, aspek pelaku kuat dugaan melibatkan banyak pihak. Kalau sudah seperti itu, maka wajar jika muncul dugaan ini disengaja. Kalau terbukti disengaja maka itu bentuk kejahatan anggaran,” tegasnya.

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, lanjutnya, tidak boleh tutup mata melihat masalah ini.”Kepala Kejati Lampung yang baru harus membuktikan komitmennya dalam memberantas korupsi dengan mengusut masalah Dinas Pertanian Pesawaran ini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya,berbagai persoalan di tubuh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Pesawaran terus terkuak. Setelah mencuat proyek benih padi yang diduga fiktif dan proyek handtractor yang tidak dibagian ke petani. Kini muncul dugaan praktik penjualan paket proyek tahun 2015.

Bahkan, informasi yang diperoleh dari internal Distanak Pesawaran menyebutkan dugaan bagi-bagi paket proyek tahun 2015 itu dilakukan oleh Kepala Kepada Ditanak Pesawaran, Syafri, langsung melalui salah satu oknum pegawai Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) setempat berinisial K.

“Paket proyek tahun 2015 pengelolaannya tidak melalui pegawai Distanak. Kadis (Syafri,red) bersama salah satu pegawai BP4K inisial (K) yang membagi-baginya. Rekanan memberikan uang tali asih (setoran) terkait proyek Distanak kepada oknum BP4K tersebut,” ujar salah satu pegawai Distanak yang enggan namanya ditulis, baru-baru ini.

Menurutnya, seharusnya pengelolaan kegiatan melalui bidangnya masing-masing. “Hubungan dengan kasi BP4K itu apa?. Kami tidak tahu menahu kegiatan tahun ini, pembagian proyek dikendalikan langsung oleh kadis. Dan informasinya kadis lebih mempercayakan pada pegawai BP4K itu,” cetusnya, sembari kembali mewanti-wanti namanya tidak disebutkan.

Bahkan, lanjutnya, kepimpinan M. Syafri sebagai Kadistanak Pesawaran banyak dikeluhkan sejumlah pegawai Dinas Pertanian setempat. Pasalnya selain minimnya pembinaan terhadap bawahan, juga koordinasi antar jajaran Distanak sangat sulit.”Meskipun sejumlah kegiatan Distanak untuk tahun anggaran 2015 tertumpu pada bidang SDM, tapi Kabidnya tidak dapat berbuat banyak,” cetusnya.

Terbongkarnya indikasi praktik ‘obral’ paket proyek ini semakin menambah daftar panjang persoalan yang melilit Distanak Pesawaran. Sebalumnya, juga terungkap dugaan pemotongan Dana Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) tahun 2014 hingga program pengadaan bibit padi bersubsidi tahun 2013 yang diduga fiktif. Serta muncul dugaan penyimpangan dalam kegiatan pengadaan handtractor tahun 2014.

Berdasarkan informasi yang di Himpun Harian Pilar, handtractor yang diadaakan pada tahun 2014 itu ternyata hingga kini tidak disalurkan ke masyarakat. Sebaliknya lima Handtractor itu justru disimpan dirumah salah satu oknum di Dinas tersebut.

Saat dikonfirmasi oknum Distanak tersebut mengakui jika masih terdapat lima hanctractor disimpan dirumahnya,”Ya pak, 5 buah hendtractor masih ada dan belum direalisasikan. Katanya belum ada kelompoknya. Saya gak tau apa-apa, saya hanya dititipin aja kok pak,” ujar salah staf Distanak itu.

Masalah ini semakin menguatkan jika pelaksanaan kegiatan-kegiatan milik Distanak Pesawaran bermulur masalah.(Fahmi/Juanda)