Harianpilar.com, Bandarlampung – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung memastikan harga beras di pasaran akan kembali stabil pada bulan April 2015. Pasalnya, Lampung akan menghadapi panen raya di bulan April tersebut.
“Kenaikan harga beras di pasaran itu seperti teori ekonomi. Saat permintaan meningkat dan stok tidak ada, maka harga akan naik. Tapi saya yakin setelah panen raya harga akan stabil,” papar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung Lana Rekyanti, usai hearing dengan Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Senin (9/3/2015).
Diungkapkan Lana, panen raya gabah di Provinsi Lampung akan berlangsung pada akhir Maret hingga pertengahan Mei 2015. Saat panen raya tersebut, PT Perum Bulog akan menyerap hasil pertanian petani.
Kenaikan harga beras di pasaran juga disebabkan oleh pengusaha yang langsung mengambil beras ke petani. Para pengusaha luar daearah seperti Palembang, Tangerang dan Jakarta saat panen raya banyak yang membli hasil produksi padi.
“Harga naik karena daya beli di tingkat petani mahal. Pemerintah kalau beli ke petani kan hanya Rp3.300, kalau pengusaha yang membeli bisa mencapai Rp5.000 per kilogram. Para petani lebih menjual ke pengusaha karena harga diatas HPP (harga pokok penjualan), ini yang mempengaruhi harga di pasar,” paparnya.
Untuk itu diharapkan agar kedepannya pemerintah melalui Kementerian Pertanian bisa segera menetapkan HPP, sebab selama 3 tahun ini belum mengalami perubahan sejak 2012.
“Harapan kita pada tahun 2015 bisa naik harga gabah kering maupun harga beras. Sehingga bulog bisa menyerap untuk cadangan makanan yang bisa digunakan untuk pembagian raskin. Sebab, ketentuan kementrian dalam negeri setiap provinsi bisa mempunyai cadangan pangan paling tidak 200 ton untuk kabupaten 100 ton, nah ini harus digalakan, sedangkan untuk pembagian raskin, Perum bulog selalu mendistribusikan hal ini dalam waktu tiga bulan sekali,” katanya.
Sementara anggota Komisi II DPRD Lampung Putra Jaya Umar mendorong pemerintah dan perum bulog agar bisa mendistribusikan raskin setiap bulan. Agar beban masyarakat miskin dapat dikurangi. “Raskin kita sering terlambat sampai 3 bulan, idealnya tiap bulan dibagi. Masyarakat miskin ini kan rata-rata tidak punya sawah, pekerjaan hanya sebagai buruh,” ujarnya. (Fitri/Juanda)









