oleh

Proyek Disdik Pringsewu ‘Bobrok’ Sejak Awal

Harianpilar.com, Pringsewu – ‘Kebobrokan’ perealisasian sejumlah proyek milik Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Pringsewu tidak hanya terjadi pada pelaksanaan teknisnya dilapangan. Namun, sejak awal perealisasian atau tahap tender diduga kuat memang sudah sarat permainan.

Indikasi adanya pengondisian dalam tender proyek itu terlihat dari beberapa hal. Pertama, minimnya nilai penawaran yang diajukan oleh rekanan. Kedua, peserta tender yang terkesan hanya itu-itu saja, bahkan perusahaan pemenang disatu paket menjadi peserta juga dipaket lainnya.

Seperti pada proyek Pembangunan Ruang Kelas Baru SMPN 4 Gadingrejo dengan pagu anggaran Rp 452 juta, dimenangkan oleh CV.Tuga Putri Tunggal dengan harga penawaran Rp450 juta atau hanya turun Rp2 juta. Begitu juga pada paket Pembangunan Ruang Kelas Baru SMPN 2 Banyumas dengan pagu anggaran Rp452 juta yang dimenangkan CV.Global Nusantara dengan penawaran Rp 449 juta atau hanya turun Rp3 juta dari pagu.

Anehnya lagi, dalam dua paket dengan jenis pekerjaan yang sama ini, kedua perusahaan bergantian menjadi pemenang. Dipaket Pembangunan Ruang Kelas Baru SMPN 4 Gadingrejo yang menjadi pemenang CV.Tiga Putri Tunggal dan CV Global Nusantara menjadi peserta namun dinyatakan kalah.

Sebaliknya pada paket Pembangunan Ruang Kelas Baru SMPN 2 Banyumas yang menjadi Pemenang CV Global Nusantara, dan CV Tiga Putri Tunggal dinyatakan kalah dengan alasan surat penawaran tidak sesuai. Padahal, kedua paket proyek ini memiliki jenis kegiatan yang sama. Dan peserta lain dalam tender dua proyek ini juga perusahaan yang nyaris sama semua.

Masalah ini makin menguatkan dugaan adanya penyimpangan dalam perealisasian proyek Disdik Pringsewu itu. Sebelumnya, juga terungkap bahwa Pembangunan Ruang Kelas Baru SMPN 4 Gadingrejo Kabupaten Pringsewu yang menghabiskan anggaran hingga Rp452 juta itu secara kualitas sangat meragukan.

Pasalnya, proyek yang dikerjakan CV.Tiga Putri Tunggal ini kondisinya kini mulai mengalami kerusakan, padahal proyek ini baru seumur jagung. Terlihat jelas dilantai bagian belakang RKB ini mulai mengalami retak-retak dan amblas, cat dinding mulai mengelupas, dan parahnya lagi kusennya diduga kuat menggunakan kayu asalan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, dalam tahap tender nilai penawaran rekanan proyek ini sangat minim atau hanya turun Rp3 juta dari pagu anggaran. Seharusnya, dengan dana yang maksimal seperti itu, kualitas proyek tersebut pada tingkatan sangat baik.

Kepala Dinas Pendidikan, Budaya dan Pariwisata (Disdikbudpar) Kabupaten Pringsewu, Heri Iswahyudi, mengaku tidak mengetahui adanya bangunan proyek RKB SMP yang bermasalah, karena tidak ada laporan dari Kepala Sekolah.

Heri mengaku akan bertanya dahulu pada konsultan pengawas proyek ini. Anehnya, Heri sendiri tidak mengetahui siapa konsultan pengawasnya,”Nanti saya tanya konsultan pengawasnya dulu,” ujar Heri, Rabu (11/2/2015).

Sementara, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek RKB ini, Haiyin, mengaku akan menegur rekanan proyek itu untukmelakukan perbaikan. Namun, Haiyin mengklaim proyek RKB ini sudah baik,”Baru ini rekanannya saya tegur agar segera melakukan pemeliharaan pada kerusakan yang ada,” tutupnya. (Sairun/Juanda)