oleh

Pemkot Bingung Siasati ‘WC Terbang’

Harianpilar.com, Bandarlampung – Seketaris Kota Bandarlampung Badri Tamam mengaku telah melakukan koordinasi dengan pihak Kecamatan Tanjungkarang Pusat terkait 100 KK yang tinggal di RT 08, 09 dan 10 LK II kaliawi yang belum memiliki WC. Namun belum ada laporan dari hasil mediasi tersebut, ke depan ia berjanji alan kembali mendorong agar mediasi dapat membuahkan hasil

“Tapi masalahnya di sana itu kan tanah sewa. Kita sudah pernah instruksikan ke camat untuk mediasi. Tapi belum ada laporan, nanti kita dorong lagilah ke Camat dan Lurah untuk lakukan mediasi,” ungkap Badri, saat ditemui di Kantor Pelayanan Satu Atap Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung, Rabu (11/2/2015).

Terkait apakah ada niatan Pemkot untuk menganggarkan bantuan pembangunan WC dalam program mandi cuci kakus (MCK) pada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kelurahan (BPMPK) Kota Bandarlampung, Badri mengaku terkendala pada hak kepemilikan tanah.

“Sekarang kalau tanahnya nggak boleh, gimana mau kita bantu untuk buat bantuan MCK. Tapi kalau pemilik tanah mau memberi izin, pemkot pasti bantu, karena untuk kepentingan masyarakat. Pak wali pasti respon baik, kita fasilitasi, Pemkot juga kan punya program pembuatan MCK untuk warga tidak mampu. Tapi itu, balik lagi, syaratnya harus tanah sendiri, jangan tanah sewa atau tanah sengketa,” imbuhnya.

Sementara saat dikonfirmasi, Camat TkP Maryamah mengaku, pihaknya kerap kali melakukan mediasi dengan pemilik tanah, terkait kepentingan warganya yang berada di Gunung Kucing (sebutan wilayah tersebut, Red).

“Sudah pernah berapa kali kita bertemu dengan anak pemilik tanah yang dipercaya disitu, kalau dengan orang tuanya kita belum pernah ketemu. Memang benar, pemilik tanah mengizinkan mereka membangun rumah, tapi tidak boleh permanen dan yang penting jangan buat WC,” ungkap Maryamah saat dihubungi, Rabu (11/2).

Padahal, sambung Maryamah, pihaknya pernah mengusulkan ke anak pemilik tanah tersebut, untuk nantinya di rumah-rumah warga juga dibuatkan septitenk sebagai tempat penampungannya, namun hal itu tetap tidak bisa merubah pendirian mereka.

“Kita juga nggak bisa maksa, dan nggak bisa bantu warga banyak, karena sudah berulang kali kita minta. Kita juga jelaskan, nantinya kotoran itu bisa jadi pupuk agar tidak mengganggu. Tapi mereka tetep keukeh. Padahal kami siap bantu buat 100 WC untuk warga, tapi bagaimana, percuma juga,” keluhnya.

Maryamah juga menceritakan, bahwa dulunya pihak kecamatan bersama warga pernah membuat WC umum di lingkungan mereka. Namun, upaya tersebut tidak berjalan lama, karena kurang perhatiannya warga dalam menjaga kebersihan WC umum itu.

“Dulu pernah ada satu WC umum yang kita bangun, tapi nggak keurus, airnya nggak ada. Dan ‘wc terbang’ itu juga bisa dikatakan sudah jadi budaya disana,” ujarnya.

Maryamah membeberkan, bahwa pihaknya bersama kader-kader puskesmas dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandarlampung juga sering memberikan penyuluhan tentang pola hidup sehat kepada masyarakat di Gunung Kucing.

“Saat musim penghujan, kita sering beri penyuluhan, semacam Kesling (kesehatan lingkungan, Red) gitu, kita ajarkan mereka pola hidup sehat. Kita juga ajarkan pemanfaatan pekarangan rumah, agar mereka bisa tanam bunga atau tumbuhan lain di depan rumah mereka, tapi tetap saja belum ada perubahan,” tutupnya. (Buchari/JJ).