Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama berkata pada Rabu (28/01/2015) bahwa Tiongkok merupakan sebuah negara penting tapi sayang, sistem pemerintahan yang dianutnya sama sekali tidak demokratis.
Saat itu ia berada di New Delhi sebagai tamu utama sebuah perguruan tinggi.
Dalai Lama, 79 tahun, telah menyatakan bahwa ia tidak akan terlahir kembali di Tiongkok sebelum Tibet merdeka dan tidak ada satu pun termasuk Tiongkok yang berhak memilih penggantinya “demi kepentingan politik”. Sebelumnya Tiongkok memperingatkan Dalai Lama bahwa ia tidak punya hak untuk menanggalkan tradisi reinkarnasi.
Amerika, India dan Jepang, disebut-sebut Dalai Lama sebagai negara besar dan penting karena sistem demokrasi dan keragaman budaya.
[Dalai Lama, Pemimpin Spiritual Tibet]:
“Tiga negara ini (AS, India, Jepang) punya peran sangat penting. Sayangnya, Tiongkok yang termasuk negara penting, sama sekali tidak memiliki sistem yang demokratis.”
Tiongkok sendiri telah memerintah Tibet dengan tangan besi sejak Komunis tiba pada tahun 1950. Dalai Lama kemudian melarikan diri ke India pada tahun 1959 setelah pemberontakan yang gagal melawan Komunis Tiongkok.
Pemerintahan Tibet dalam pengasingan bersama sepuluh ribu pengungsi, berkumpul di bukit Dharamsala di negara bagian utara Himachal Pradesh.
Tiongkok mengaku sistemnya telah membawa perubahan yang dibutuhkan pada Tibet yang miskin dan terbelakang. Namun pihak pengasingan dan kelompok HAM menunding Tiongkok gagal menghormati sistem religi Tibet yang unik dan menindas rakyatnya. (YTB)









