Harianpilar.com, Bandarlampung – Sengketa lahan PT KAI dengan warga Sawah Brebes Bandarlampung bakal memanas. Betapa tidak, sebagai bentuk perlawanan, warga yang telah berpuluh-puluh tahun mendiami lahan tersebut membuat posko perjuangan rakyat, di depan kantor PT KAI, Kamis (22/1/15).
“Semena-mena mereka mengukur lahan warga, ini kan PT KAI kan baru dulu namanya PJKA , apa emang aset aset PJKA dulu juga dilimpahkan ke PT KAI, kami nggak tahu itu,” ungkap Ketua Forum Masyarakat Bersatu Robert Gultom, Kamis (22/1/15) saat ditemui di Posko Perjuangan Rakyat untuk Melawan Kesewenang-Wenangan PT KAI. Dipaparkan Robert, tindakan PT KAI mengukur lahan yang ditempati warga adalah tindakan sewenang-wenang dan arogan, pasalnya PT KAI adalah perusahaan baru, sedangkan warga menempati lahan tersebut telah berpuluh-puluh tahun.
Meski tidak memiliki surat, papar Robert, namun warga telah telah menempati berpuluh-puluh tahun di daerah tersebut, serta mematuhi aturan-aturan pemerintah yakni membayar PBB.
“Kami membayar PBB bertahun tahun di sini, kok tiba-tiba diakui milik PT KAI,” ungkapnya.
Robert bertekad, bersama warga Sawah Brebes, dirinya tidak akan main-main memperjuangkan lahan yang ditempatinya itu, bahkan 6 orang warga Sawah Brebes telah menghadap Kementerian Perhubungan di Jakarta didampingi oleh Anggota DPD RI Perwakilan Lampung Andi Surya dan Anang Prihantoro.
“Kami sudah melapor ke DPD RI Perwakilan Lampung Pak Andi Surya sama Pak Anang, sudah dibawa ke pusat, sampai sekarang belum ada keputusan, masih diperjuangkan sama mereka,” paparnya.
Ditambahkannya, perjuangan yang mereka lakukan ini, selain agar lahan yang ditempatinya digusur oleh PT KAI, tetapi juga untuk mendapatkan kepastian hukum tentang kepemilikan lahan tersebut.
“Harapan kami ingin punya surat kepemilikan buat kami, supaya jelas ini diakui punya kami ada kepastian,” ujarnya.
Pantauan di lokasi, warga Sawah Brebes Bandarlampung telah menyiapkan bambu runcing di Posko Perjuangan tersebut. Menurut mereka, langkah itu sebagai bentuk perjuangan melawan PT KAI.
“Ini bambu runcing karena kami mengingat jaman dulu waktu perjuangan melawan Belanda, kan kita pakai bambu runcing, sedangkan mereka mengaku tanah punya Groundcart Belanda dulu, ya berarti mereka Belanda, harus kami lawan dengan bambu runcing,” tandasnya. (*).









