Tanggamus (Harian Pilar)
Ratusan siswa SMK Negeri 1 Talangpadang, Kabupaten Tanggamus menggelar demo, Selasa (4/11) menuntut dipecatnya Ahmad Sujito sebagai Kepala Sekolah (Kepsek), karena dinilai tidak transparan mengelola keuangan sekolah dan gagal menciptakan rasa aman dan nyaman dalam lingkungan sekolah.
Ahmad Sujito dituding tidak transparan mengelola anggaran bantuan operasional manajemen mutu (BOMM) miliaran rupiah setiap tahun.
Selain mendesak kepsek mundur, siswa juga mendesak delapan dewan guru SMKN 1 Talangpadang yang tergabung dalam tim disiplin dipecat karena dinilai arogan.
“Kami meminta bapak Ahmad Sujito sebagai kepala sekolah diberhentikan dari jabatannya. Dan delapan guru, tim disiplin yang bertindak arogan dengan mengedepankan kekerasaan kepada siswa juga diberhentikan,” teriak para siswa, Selasa (4/11).
Menurut siswa, selama ini mereka dibebani dengan besarnya pungutan bantuan operasional manajemen mutu (BOMM) yang dilakukan pihak sekolah dengan dalih keputusn komite sekolah. “Pungutan BOMM itu wajib kami bayar, mulai dari kelas satu sampai kami kelas tiga, yang besarnya setiap tahun jutaan rupiah,” ujar seorang siswa diamini siswa lainnya.
Dikatakanya, dari kelas satu selain biaya pendaftaran dan beli seragam yang nilainya mencekik leher pihak sekolah juga mematok setiap siswa setor dana BOMM Rp3.200.000, dengan rincian bentuam pengembangan fisik Rp1,5 juta, bantuan operasional manajemen mutu atau SPP Rp1,2 juta dan dana asuransi, perawatan komputer dan kegiatan siswa Rp500 ribu.
Di kelas dua, siswa kembali harus membayar BOMM Rp2.550.000, dengan rincian bantuan pengembangan fisik Rp800 ribu, SPP Rp1,2 juta dan asuransi, perawatan komputer dan kegiatan siswa Rp500 ribu.
Begitu juga saat duduk di kelas tiga, siswa kembali dibebani BOMM sebesar Rp2.350.000. “Sehingga selama tiga tahun kami sekolah disini harus mengeluarkan biaya lebih kurang sembilan juta,” kata siswa.
Padahal kata siswa, setiap tahun pihak sekolah mendapat kucuran dana BOS Rp900 juta sesuai dengan jumlah siswa 900 orang.
“Kami menilai banyak kejanggalan penggunaan dana, dikemanakan uang miliaran rupiah itu. Karena untuk kegiatan siswa saja jarang, padahal kami dipungut untuk iti Rp500 ribu setahun,” katanya.
Ironisnya lagi, dana asuransi yang seharusnya disetorkan ke lembaga asuransi, justru dikelola sendiri oleh pihak sekolah. “Kami minta pihak terkait mengaudit keuangan sekolah ini. Karena kami yakin banyak dana yang tak terserap,” kata siswa kelas tiga.
Selain itu, para siswa juga mengeluhkan prilaku dewan guru yang tergabung dalam tim disiplin yang bertindak arogan dan diluar kepatutan terhadap siswa yang dianggap melanggar aturan sekolah.”Sudah banyak siswa yang celana dan roknya di gunting, sampai maaf siswa putri digunting roknya sampai terlihat celana dalamnya, hanya karena roknya sebetis. Dan itupun bukan disengaja tetapi karena rok lama dan belum bisa beli rok baru,” katanya.
Terpisah, saat dihubungi Akhmad Sujito berdalih besarnya dana BOMM itu sudah keputusan rapat komite sekolah dengan wali murid.
“Itupun dibayarnya diangsur. Dan bagi siswa yang tidak mampu, kami bebaskan asal orangtuanya menghadap saya, ngomong,” dalihnya.
Akhmad Sujito mengakui jika pihaknya mendapat kucuran BOS Rp900 juta. “Kalau dana BOS sudah jelas aturannya penggunaannya. Sedangkan dana BOMM itu kami gunakan untuk bayar guru honor,” katanya.
Sementara itu, para siswa bertekad bila tuntuan mereka tidak dipenuhi, mereka akan mendatangi Dinas Pendidikan, ke bupati dan DPRD.
“Kami ini bukan sapi perahan yang dipaksa harus bayar ini dan itu. Mana pendidikan gratis itu, kami sekolah ini karena kami pingin maju,” celetuk seorang pelajar putri.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Tanggamus, Anas Anshori mengaku tidak mengetahui aksi demo siswa SMKN 1 Talangpadang itu. “Saya tidak tahu, belum ada laporan. Nanti kami turunkan tim kesana menindaklanjuti tuntuan para siswa itu,” ujar Anas.










Komentar