Harianpilar.com, Bandarlampung – Menjelang pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila), muncul polemik dugaan manipulasi curriculum vitae (CV) milik Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Lampung (Unila), Prof. Ir. Suharso, Ph.D. Suharso yang maju sebagai calon Rektor Unila disebut dalam CV mencantumkan sebagai Wakil Sekretaris PWNU Lampung periode 1992-1997.
Dalam CV yang diterima Harian Pilar, Suharso tertulis pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris PWNU Lampung periode 1992-1997. Sedangkan informasi yang dihimpun Harian Pilar, dalam SK kepengurusan PWNU Lampung tahun 1990-1994 danĀ 1997-2002 dibawah Kepemimpinan KH. Khusnan Mustofa Gufron selama 2 periode tidak ada nama Suharso.
Element Kaum Sarungan Nadhliyin, Kaum Milenial Nadhliyin, dan Hijabber Nadhliyin Provinsi Lampung, Yuridis Mahendra, mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan kejadian dugaan pemalsuan data dan membawa nama besar organisasi NU. Terlebih, kata dia, kejadian ini dilakukan oleh Calon Rektor Universitas Lampung salah satu parameter kampus di Lampung.
“Kejadian ini jelas menyakiti kami warga Nadhliyin Provinsi Lampung tentunya. Belum apa-apa beliau sudah berani seperti itu, mau jadi apa Unila kelak,” ujarnya, Selasa (20/12).
Yuridis mengaku memiliki bukti kuat bahwa Suharso diduga telah memanipulatif jabatan Wakil Sekertaris PWNU Lampung periode 1992-1997. Pihaknya mengklaim memiliki SK Kepengurusan PWNU Lampung tahun 1990-1994 dan tahun 1997-2002
“Karena alat bukti yang kami miliki itu berupa SK kepengurusan PWNU Lampung tahun 1990-1994 dan 1997-2002 dibawah Kepemimpinan KH. Khusnan Mustofa Gufron selama 2 periode, tidak ada nama Suharso. Sementara yang kami pertanyakan adalah periode tahun 1992-1997 Itu kepemimpinan siapa,” beber pria yang akrab disapa Idris Abung itu.
Atas dasar itu, Yuridis menantang Suharso untuk menunjukkan SK Kepengurusan PWNU Lampung Tahun 1992-1996 itu.
“Justru kami menantang Prof. Suharso, apakah dia bisa menunjukkan SK kepengurusan PWNU Lampung tahun 1992-1997 yang di sebutkannya dalam CV beliau dalamĀ pencalonan Rektor Unila,” tegasnya.
Yuridia juga telah meminta ke pihak Suharso untuk memberikan klarifikasi, tapi sayang tidak ada itikad baik.
“Sehingga kami akan mengambil langkah aksi damai yang akan kami laksanakan pada Kamis 22 Desember 2022 lokasi di Tugu Adipura dari Jam 08.00 wib sampai selesai. Selain itu kami akan menyerahkan pernyataan sikap dan tuntutan kepada PWNU Lampung untuk mengambil langkah kongkrit,” ujarnya.
Yuridis berharap dan meminta kepada panitia Pilrek Unila dapat mengambil langkah yang terbaik. Sebab dengan adanya kejadian ini tentu membuktikan jika kejadian ini bukan hanya menyakiti keluarga besar NU Lampung, tapi juga panitia pemilihan rektor hingga Kemenristek Dikti telah kecolongan.
“Sehingga saya yakin kepada pihak-pihak yang berkompeten dapat mengambil langkah kongkrit baik secara hukum maupun sanksi. Selain itu, dengan adanya kejadian ini diharapkan jangan sampai ada lagi kejadian ada orang yang mengatasnamakan warga NU untuk untuk kepentingan pribadi. Sekali lagi saya tantang Suharso untuk menunjukkan SK kepengurusan PWNU Lampung tahun 1992-1997 yang dimaksud beliau dalam CV pencalonan beliau selaku Rektor Unila,” pungkasnya.(*)









