oleh

Menjelang Lima Tahun Kepemimpinan Rycko-Eki (Bagian III): Prilaku Birokrasi ‘Bobrok’

Harianpilar.com, Lampung Selatan – Birokrasi dilingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan selama hampir lima tahun di bawah Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Rycko Menoza dan Eki Setiyanto dinilai masih jauh dari harapan. ‘Kebobrokan’ birokrasi sangat terlihat dari prilaku birokrat yang banyaknya datang terlambat dan pulang cepat.

Selama ini banyak pegawai dan pejabat Pemkab Lamsel yang lebih memilih tinggal di Bandarlampung dan jarang yang tinggal di Kalianda Lamsel. Kondisi itu menyebabkan banyak pegawai dan pejabat yang datang telat namun pulang lebih cepat.

“Pejabat banyak yang enggan tinggal di Kalianda, banyak yang lebih memilih tinggal di Bandarlampung. Pegawai dan pejabat banyak yang datang telat tapi pulang cepat,” cetus Ruslanudin, Ketua Amak Raja Lamsel, Senin (6/7/2015).

Akibat masalah itu, lanjut Ruslan, perekonomian menjadi lebih lambat perputarannya. Sebab, yang mengatur dan mendapatkan uang dari Pemda Lamsel selalu pergi keluar Kalianda.”Bagaimana perputaran ekonomi mau berjalan, kalau yang mengatur dan mendapatkan uang dari Pemda pergi kabur ke luar Kalianda, sungguh miris Kota Kalianda yang menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Selatan,” kata Ruslan.

Soal melakukan pembangunan, terang Ruslan, siapapun bupatinya pasti melakukan pembangunan. Namun, yang menjadi persoalan apakah pembangunan itu merata dan adil atau tidak.

“Siapa pun bupatinya pasti membangunan. Karena memang sudah ada anggarannya dan perencanaanya. Tapi merata dan adil tidak pembangunan itu,” ungkapnya.

Pemimpin daerah, jelas Ruslan, harus sering turun ke tengah-tengah masyarakat. Sehingga mengerti keinginan masyarakat. “Sehingga tidak terjadi seperti masalah pembangun patung mempergunakan dana APBD tanpa melalui mekanisme dan persetujuan masyarakat adat, merubah nama jalan tanpa adanya mufakat dengan tepat, memberi nama bangunan gedung tanpa mufakat dengan tepat,” pungkasnya. (Saiful/Juanda)