oleh

Atlet Tenis Meja Disabilitas Lampung Gagal Ke Papua Karena Kurang Anggaran

Harianpilar.com, Bandarlampung – Gagal berangkat ke Pekan Paralimpik Nasional (Papernas) XVI Papua tahun 2021 menyisakan kesedian dan kekecewaan mendalam bagi sejumlah atlet disabilitas tenis meja Provinsi Lampung. Gagal berangkatnya atlet-atlet berprestasi itu disebabkan oleh masalah klasik, yakni keterbatasan anggaran yang disediakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) disebut hanya mencairkan Rp100 juta dari Rp1,2 Miliar yang diajukan.

Atlet disabilitas tenis meja Lampung asal Tanggamus, Zulfikar, menguraikan penyebab tidak berangkatnya mereka ke Peparnas XVI 2020 Papua. Ia pun merasa kecewa dan kesal dengan keputusan Ketua National Paralympic Committee (NPC) Lampung. Mereka yang tidak berangkat diantaranya Zulfikar dari Tanggamus, Triyanto dari Lamsel, Hendrik Imam Lamtim, Sugiyatno dari Lamtim dan Kokom dari Bandarlampung.

Padahal, mereka sudah banyak mengharumkan nama Lampung dengan perolehan medali di kancah nasional mulai Peparnas 2016, Kejurnas 2017 di Bandung, dan Kejurnas 2019 di Solo. Mirisnya lagi, mereka yang gagal berangkat dengan alasan keterbatasan dana. Dari Rp1,2 miliar yang mereka ajukan untuk persiapan Peparnas, cuman Rp100 juta yang dicairkan oleh Dispora Lampung.

“Yang jelas kita gagal berangkat. Dan ini sangat kami sayangkan, kenapa kita yang di kejurnas 2017 dan 2019 selalu membawa medali, di Peparnas cuman disediakan satu atlet. Dengan alasan keterbatasan dana, dana yang dicairkan cuman seratus juta untuk semua cabor,” ujarnya, Senin (1/11).

Padahal, kata dia, untuk tenis meja paling tidak mengirimkan tiga atlet. “Karena disitukan ada kategori single, ganda, dan beregu. Kalau dikirimkan cuma satu alangkah ruginya, padahal Lampung ini terkenal dengan beregu tenis mejanya,” papar Zulfikar.

Akhirnya, lanjut dia, mereka berempat bersepakat untuk  mundur dan menyerahkan jatah tenis meja ke Kokom yang berasal dari Bandarlampung. “Namun tanpa ada alasan yang jelas dari NPC Lampung, tenis meja juga nggak ngirim juga. Akhirnya cuman tiga cabor yang dikirim ikut Peparnas. Boccia, Renang, dan Atlet,” terangnya.

Menurut Zulfikar, informasi yang didapatinya cabor boccia memakai dana pribadi untuk mengikuti Peparnas 2021. “Terus yang jadi kami sesalkan kenapa yang sudah terbukti membawa nama baik Lampung nggak dipertahankan. Kami kecewa dengan Ketua NPC kami,” keluhnya.

Atas persoalan itu pun, Zulfikar bersama atlet tenis meja lainnya Triyanto menyambangi Dispora Lampung, Senin (1/11). Disitu mereka bertemu dengan Sekretaris Dispora Rahmat Hariyadi dan salah satu Kepala Seksi (Kasi) Indah. “Ya disitu tadi saya sampaikan semua uneg-uneg kami,” ujarnya.

Zulfikar mengaku siap seratus persen apabila DPRD Provinsi Lampung ingin meminta keterangan terkait persoalan ini. “Saya siap seratus persen,” tegasnya.

Zulfikar berharap ke depan tidak ada kesenjangan sosial antara atlet nondisabilitas dengan atlet disabilitas. “Kemarin atlet PON Lampung sebanyak 168 atlet dan 385 kontingen semua bisa berangkat, tapi kenapa yang disabilitas mau berangkat 10 sampai 20 orang saja susahnya minta ampun. Kayak ada semacam diskriminatif. Dan pada saat saya tanyakan ke Dispora, permasalahannya ketua NPC kami kurang pendekatan dengan mereka (Dispora, red). Makanya yang cair cuman 100 juta,” sesalnya.

Padahal, pihaknya sudah membuat pengajuan proposal sejak 2019 untuk Peparnas 2021 dengan anggaran dana hibah Rp1,2 miliar. “Tapi ini kenapa yang cair cuman seratus juta,” tanyanya.

Zulfikar juga menyampaikan selalu memakai dana sendiri setiap ada kejuaraan nasional. “Saya kejurnas 2017 kemarin saja sampai jual kulkas. Padahal seharusnya setiap ada kejuaraan, kami sebagai atlet nggak perlu mikirin dana untuk berangkat. Dari 2016 Sampai 2021 masih begini-begini saja. Tiap ada kejuaraan selalu biaya sendiri,” tutupnya.

Terpisah, Plt. Kadispora Lampung, Desca Tama Paksi Moeda, mengatakan, pemberangkatan para atlet ke Peparnas merupakan ranahnya NPC.”Bukan Dispora mas yang tidak memberangkatkan. Tapi itu kan ada di ranah NPS (KONI-nya atlit disabilitas) bagaimana mekanisme internal mereka,” ujarnya.

Desca juga menyampaikan, persoalan tidak berangkatnya para atlet tenis meja sudah dijelaskan oelh Sekdaprov dan Ketua NPC. “Dan itu kan semua sudah dijelaskan waktu pak Sekda dan Ketua NPS melepas keberangkatan atlit-atlit tersebut di Kantor Gubernur hari Jumat yang lalu,” kata dia.

Terkait proposal dana hibah Rp1,2 miliar yang mereka ajukan sedangkan yang cair cuma Rp100 juta, Desca meminta untuk mengkonfirmasi hal tersebut ke Sekretaris Dispora. “Hubungi Sekretaris Dispora ya untuk kronologisnya,” singkat dia sembari mengaku sedang ada rapat.

Sekretaris Dispora Rahmat Hariyadi mengaku tidak mengetahui terkait pengajuan proposal NPC Lampung sebesar Rp1,2 miliar untuk Peparnas 2021. “Saya masih baru disini, mungkin yang lebih lama mungkin lebih tau. Karena saya baru 2021 ini menjabat,” kata dia.

Ia juga mengatakan dana hibah untuk NPC Lampung di tahun anggaran 2021 memang cuman Rp100 juta. “Ya yang tertulis memang seratus juta ya kita keluarkan seratus juta,” kata dia.

Kendati demikian, pihaknya akan memanggil pengurus NPC Lampung dan sejumlah atlet untuk duduk bersama berdiskusi bagaimana ke depan lebih baik lagi. “Yah paling nanti selepas mereka pulang dari Peparnas Palu nanti. Ini juga atas usul Pak Kadis juga kita akan panggil Ketua NPC Lampung dan atletnya, duduk bersama selesaikan persoalan yang ada” ujarnya.

Rahmad membenarkan telah menerima atlet disabilitas tenis meja di Kantornya. “Ya tadi kita juga sudah ngobrol bersama. Dan kita sudah jelaskan terkait dana hibah seratus juta itu. Dan harapannya ke depan NPC Lampung ini ke depan kita akan susun lebih baik lagi organisasinya. Mulai dari kepengurusan provinsi sampai kabupaten/kota. Ini yang jadi harapan kita,” jelasnya.

Sementara, Ketua NPC Lampung, Pramono belum bisa dikonfirmasi terkait persoalan ini. Dihubungi via WhatsApp tidak ada jawaban. Begitu pun pesan WhatsApp yang tak dibalas. (Ramona)