oleh

Hardiknas Penjabaran Pemantapan Revolusi Mental

Harianpilar.com, Bandarlampung – Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo pihaknya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung akan membangun karakter bangsa akan fokus meningkatkan pengadaan sarana dan prasarana maupun penambahan jumlah serta menumbuhkan mutu kualitas tenaga pendidiknya. Hal ini sebagai langkah pemerintah pusat dalam mengimplementasikan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan untuk menjabarkan pemantapan revolusi mental.

“Terpenting kesejahteraan mereka (guru) termasuk mendidik, membina anak-anak kita (siswa) melalui pelatihan-pelatihan pembentukan karakteristik kebangsaan agar mampu melewati berbagai tantangan kedepannya, termasuk menghadapi persaingan globalisasi Asean (MEA),” ucapnya, usai upacara perayaan Hardiknas di PKOR Wayhalim, Sabtu (2/5/2015).

Ridho berharap melalui pengimplementasian kebijakan di bidang pendidikan tersebut, maka peran Disdikbud Lampung bersama pemerintah daerah, dewan pendidikan, hingga berbagai stakeholder lain mulai dari tingkat provinsi hingga tiap kabupaten/kota memiliki kesinergisan untuk menfokuskan langkah-langkah memantapkan revolusi mental di provinsi lampung tersebut.

Ridho saat disinggung mengenai sarana prasarana dalam menunjang kebijakan tersebut menyatakan pihaknya akan berkomitmen melengkapinya terutama perbaikan dan penambahan jumlah ruang rombongan belajar (rombel) perkelas sampai berbagai alat perlengkapan penunjang pendidikannya. Hanya saja saat ini dia lagi melihat  anggaran pendidikan yang tersedia.

Sementara itu  Kadisdikbud Lampung Hery Suliyanto menyatakan pihaknya siap menjalankan implementasi revolusi mental melalui pendidikan berkarakter dengan pemberian beasiswa lanjut kuliah di Polinela bagi 125 mahasiswa dengan alokasi dana APBD pemprov sebesar Rp.3,6 miliar. Itu terkait untuk uang kuliah, hingga pemondokan.

“Dana itu dikucurkan pertahun lah, mereka (calon mahasiswa) ditarik dari perkabupaten/kota. Pendidikan karakter lainnya kita akan mulai dari bawah, PAUD/TK, SD, SMP dan SMA sederajat. Kalau tidak begitu, mustahil revolusi mental terlaksana dari mulai tingkat sekolah pendidikan karakter harus dimatangkan,” tegasnya.

Hanya saja memang ia mengakui revolusi mental terbentur masih minimnya kesiapan sarana prasarana, infrastruktur serta penyediaan tenaga pendidik. Tapi dengan adanya UU no.23/2014 tentang pemerintahan daerah didalam kebijakannya pengembalian pengelolaan SMA dan SMK ke disdikbud provinsi. Maka Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN dapat dipergunakan maksimal.

“Itu menyangkut beasiswa pendidikan, perluasan pelaksanaan UN CBT, hingga menambah gedung dan peralatan sekolah maupun tenaga pendidik. Termasuk fokus meningkatkan Pendistribusian program bantuan Anak Usia Sekolah Keluarga Miskin (AUSKM)secara transparansi jelas. Intinya revolusi mental harus menyentuh siswa kurang mampu maupun berprestasi. Apalagi kini fokus pendidikan Lampung berpusat pada pendidikan dasar 12 tahun,” tuturnya.

Di sisi lain, sebagai  Walikota Bandar Lampung, Herman HN merefleksikan pembangunan pendidikan karakter melalui revolusi mental diwiliyahnya akan difokuskan pada peningkatan mutu kualitas anak-anak didik pendidikan dasar maupun menengah melalui pendidkan gratis beasiswa bina lingkungan (bling) jenjang SD, SMP dan SMA yang terus digulirkan sejak diproklamirkan 2011 silam. (Lia/JJ)