Harianpilar.com, Lampung Selatan – Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menjadi salah satu daerah penyumbang beras terbesar di Provinsi Lampung ke tiga. Sehingga kabupaten ini memiliki potensi besar menjadi pilot project (percontohan- red) bagi nasional dalam hal penataan pupuk bagi petani.
Hal tersebut disampaikan Sekertaris Daerah Provinsi Lampung Ir Arinal Junaidi dalam Musrenbang di Kabupaten Lamsel, Senin (16/3/2015).
Dikatakan Arinal, dalam hal ini, pilot project penataan pupuk yang dimaksud yakni sistem managemen penyaluran pupuk kepada petani dengan melibatkan pihak perbankan seperti Bank Lampung, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) bekerja sama dengan pemerintah.
Terkait hal tesebut Kabupaten Lamsel berpotensi menjadi pilot project, kabupaten berjuluk Khagom Mufakat ini, dalam urutan provinsi penyumbang beras terbanyak diperingkat 3 dari 15 kabupaten/kota dan telah lama berlangsung sejak Provinsi Lampung masih ada 3 kabupaten.
“Alasannya, Provinsi Lampung menjadi hospot dari pemerintah pusat dalam hal lumbung beras, dan didefinitifkan penghasil beras peringkat 7 nasional. Logikanya, Lamsel turut sebagai daerah penghasil beras, maka memerlukan pupuk banyak. Oleh karena itu, saya selaku Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3), berkeinginan pupuk itu harus berada di tingkat petani. Untuk konsepnya sudah ada, dan kita inginkan Lamsel menjadi pilot project. Karena Lamsel ini, sudah kita jadikan sejarah sebagai penghasil beras dari 15 kabupaten yang ada di Lampung urutan nomor 3,” katanya, saat membuka resmi Musrenbang Rancangan Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) tahun 2016 tentang pemanfaatan infrastruktur dan ketahanan pangan untuk mendukung perekonomian daerah yang berlangsung di Aula Rajabasa perkantoran pemda setempat.
Dia juga menambahkan, tujuan dari sistem pilot project tersebut, tidak lain ingin mensejahterakan masyarakat dalam sektor pertanian. “Kita ingin rakyat ini sejahtera. Juga sekaligus, membantu pak bupati menerapkan pilot project ini agar bisa dijalankan. Kalau kita nilai, bidang pertanian di Lamsel begitu berpotensial,” tambahnya.
Arinal melanjutkan, terkait pilot project penataan pupuk melibatkan pihak perbankan?. Sebab, pihak perbankan sendiri berani menalangi dana yang dibayarkan, karena para petani bakal menempatkan dananya ke bank yang terkait.
“Untuk konsep pilot project ini, kita libatkan perbankan agar pupuk sampai di Lampung setelah didistribusikan ke Kabupaten/Kota, maka pupuk itu sudah diselesaikan oleh bank. Mengapa bank mau menyelesaikannya, karena petani sudah menempatkan dananya di bank yang bersangkutan. Sistem seperti ini petani merasa senang,” lanjut dia.
Sementara itu ketika ditanya oleh awak media terkait Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) lebih tinggi dari pasokan pupuk. Arinal menjelaskan, penguraian penyelesaian masalah tersebut pihaknya melibatkan satker terkait dengan pola penataan pupuk yang lebih itensif.
“Jika sudah berjalan pilot project ini, dengan melibatkan satker yang terkait lakukan penataan sistem distribusinya, agar RDKK itu sesuai dengan jumlah petani. Dalam artian pupuknya sesuai dengan RDKK,” jelasnya.
Lebih jauh dirinya mengatakan, mengenai kesepakatan pola pilot project tersebut dengan para petani. Ia menegaskan, kepada kepala daerah yang bakal ditetap sebagai daerah pilot project mengeluarkan surat komitmen dari para petani.
“Saya minta kepada bupati, agar mengeluarkan surat yang diteruskan kepada camat dilanjutkan ke kades/kelurahan. Sehingga komitmen dalam hal pendistribusian pupuk ke petani itu sesuai RDKK. Selanjutnya surat itu ditandatangani oleh petani, lurahnya, penyuluhnya, camatnya, dan disampaikanke bupati kembali,” terangnya. (Saipul/JJ).









