Harianpilar.com, Metro – Walikota A.Pairin dan Wakilnya Djohan diusung melalui Jempana (tandu) menuju Sesat Agung yang diiringi Porkopimda dan OPD. Walikota beserta wakil juga diminta membawakan Igel (tarian) kewawaian pada Festival Putri Nuban yang digelar di Samber Park, Rabu (21/11/2018).
Prosesi Munggah Bumi Pepadun merupakan prosesi adat tertinggi didalam adat Lampung Siwo Megoh. Pada prosesi adat itu untuk menobatkan seseorang menjadi raja, penyimbang dengan gelar Sutan. Itulah pristiwa adat yang digelar pada Festival Putri Nuban. Pada festival tersebut juga diwarnai dengan sesembahan tarian klosal Sebuai yang mengambarkan peristiwa Putri Nuban dan mencerminkan 9 Kebuaian Lampung Siwo Megoh.
Ketua pelaksanan Festival Putri Nuban Humaidi Hudri menuturkan walikota dan wakil merupakan tamu kehormatan dan sebagai ketua dewan kehormatan MPAL (majalis penyimbang adat Lampung) Kota Metro. Karenanya, keduanya di usung Jempana, dan membawakan igel (tarian).
Dikatakannya, Festival Putri Nuban mengusung prosesi Munggah Bumi Pedadun , yakni peristiwa adat untuk menobatkan raja atau penyimbang dengan gelar Sutan. “Prosesi itu merupakan yang tertinggi didalam adat Lampung Siwo Megoh,’ucapnya.
Sementara Walikota A.Pairin menuturkan perlu dilestarikan prosesi adat Lampung di Kota Metro dan perlu juga dibudayakan bahasa Lampung di Kota Metro. “Saya berpidato dalam bahasa Lampung, sengaja tidak di Indonesiakan supaya masyarakat ingin mengetahuinya,’ujaranya. Hal itulah upaya membudayakan bahasa Lampung.
Hadir pada Festival Putri Nuban Ketua MPAL Kota Metro Sahabudin Yusuf, dan para penyimbang adat dan tokoh adat Lampung. (Zuli).









