oleh

KPU Bandarlampung Helat Simulasi Pemungutan Suara

Harianpilar.com, Bandarlampung – KPU Bandarlampung terus mengupayakan peningkatan partisipasi pemilih pemilu 2019, termasuk bagi penyandang disabilitas.

Kali ini, KPU menghelat sosialisasi sekaligus simulasi pemungutan suara pada para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) PKK Sukarame, Bandar Lampung, Rabu (31/10/2018).

Peserta sosialisasi sekitar 100 orang, yang merupakan  siswa SLB yang sudah berusia 17 tahun ke atas. Mereka adalah para penyandang disabilitas kategori B (keterbelakangan mental) dan kategori C (tuna rungu).

Komisioner KPU Kota Bandar Lampung Divisi SDM, Partisipasi Masyarakat, dan Kampanye Fadilasari menjelaskan penyandang disabilitas yang berusia 17-21 tahun atau yang belum pernah memilih, juga adalah pemilih pemula. Kegiatan itu diselingi juga dengan pemutaran video tentang siapa pemilih pemula itu.

“Sebagai warga negara, adik-adik perlu menggunakan hak suara dalam pemilu mendatang. Kita akan memilih presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kota Bandar Lampung,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Fadila menemukan banyak siswa yang belum mengetahui ada pemilihan umum pada 17 April 2019 mendatang.

Selain itu, lanjutnya, banyak juga siswa yang belum tahu siapa calon presiden dan calon wakil presiden untuk pilpres 2019 mendatang.

Sementara itu, Kepala SLB, Endin MM.Pd, mengungkapkan banyak siswa SLB yang sudah berusia diatas 17 tahun, belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Bahkan ada yang sudah berusia 20 tahun, belum memiliki KTP, dan juga belum pernah ikut dalam pemilu.

“Setelah sosialisasi ini  kami akan berkordinasi dengan Disdukcapil, supaya dapat melakukan pendataan di sekolah kami,” katanya.

Setelah penyampaian materi, tim KPU lalu mengadakan simulasi pemungutan suara di TPS, yang dipandu oleh staf KPU Kota Bandar Lampung.  Sebanyak tujuh siswa SLB berperan sebagai Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), dan lainnya bergantian menjadi pemilih.

“Acara ini bermanfaat sekali. Selain belajar mencoblos di TPS, juga kita menjadi sadar suara warga negara itu sangat penting untuk kemajuan bangsa,” kata Jhonson, salah seorang siswa.

Dia mengajak para teman-temannya penyandang disabilitas menggunakan hak pilih pada pemilu mendatang. “Usia saya 20 tahun. Pemilu nanti mau menggunakan hak suara,” katanya dengan terbata-bata. (Ramona).