Harianpilar.com, Bandarlampung – Kasiman(67), warga Kelurahan Perwata, Teluk Betung Timur, Bandarlampung harus berjuang menghadapi penyakitnya sendiri tanpa perawatan medis. Bapak dua anak ini diduga mengidap penyakit tumor ganas pada wajah bagian kiri.
Penyakit itu sudah dideritanya hampir 7 tahun lebih dan kini Kasiman hidup menyendiri. “Awalnya sih cuman benjolan sejempol kaki. Terus gatel, saya garuk-garuk aja saya biarin, eh nggak lama bukannya sembuh malah membesar,” terang Kasiman saat ditemui di kediamannya di Jl. Laks. RE Martadinata Lk. I, RT/RW 002/-, Kelurahan Perwata, Minggu (26/11/2017).
Kasiman mengaku pernah menjalani pengobatan alternatif dan sempat dilakukan tindakan operasi dibiayai oleh seorang donatur dari salah satu partai di Lampung, namun operasi itu tidak tuntas sampai ke akar.
“Ya dulu pernah udah lama saya lupa nggak tau kapannya, ada orang partai mengadakan kegiatan gitu, terus liat saya begini keadaannya sama orang itu langsung diajuin bantuan langsung diurus ke RSDKT, nah udah dioperasi disana dirujuk ke RSCM katanya mau dioperasi, sampai disana dokter yang menangani saya malah kena musibah, jadi gagal nggak jadi mau dileser akhirnya saya dipulangin, dari semenjak itu saya nggak lagi ngurusin penyakit saya,”jelasnya.
Kasiman sangat tersiksa saat penyakit yang dideritanya sedang kumat, Kasiman merasakan gatal-gatal yang luar biasa hingga ke mata dan penyakitnya itu akan membengkak lebih besar lagi.
“Biasanya malam itu saya kumatnya, ini kan kumat-kumatan sakitnya, cuma gatel gitu malah sampai ke mata juga, kadang bisa sampai jam 3 malam saya nggak tidur kalau udah kumat,”ujarnya.
Selain Kasiman, dilingkungan sekitar Kasiman juga ada beberapa warga yang mengalami penyakit yang sama.
“Kalau penyakit saya ini memang sudah ada pas saya tinggal di pasar Ambon Teluk Betung, jadi kayanya nggak ada faktor dari lingkungan sini, walaupun disini ada tapi lebih parah kutil-kutil gitu dari kepala sampai semua badan,”ujarnya.
Semenjak penyakitnya semakin parah, Kasiman pun memutuskan untuk hidup sendiri disebuah rumah kecil berukuran 4×6 yang terbuat dari seng. “Istri ada tapi tinggal dirumah depan ini, sama adiknya. Kalau sakit gini istri dan anak saya nggak telaten, makanya saya mending urus diri sendiri,” tutupnya.(Ramona)









