Harianpilar.com, Lampung Utara – Bupati Lampung Utara (Lampura) melalui Asisten II H. Fahrizal menginstruksikan kepada camat di perbatasan antara Kabupaten Lampura-Waykanan untuk mengecek kondisi tugu perbatasan yang dicorat-coret anak baru gede (ABG).
“Saya perintahkan Camat Bukit Kemuning agar pemeriksaan dan melakukan pendekatan kepada warga sekitar untuk mengamankan tugu itu,” ujar Fahrizal Ismail melalui sambungan teleponnya, kemarin (29/3/2017).
Dikatakan Fahrizal, tugu tersebut dibangun untuk kepentingan bersama guna keindahan. Dan suatu kewajiban bersama antara Pemerintah dan masyarakat untuk menjaga tugu tersebut.
Untuk itu dihimbau kepada seluruh masyarakat terutama ABG dan remaja lainnya yang sedang bersantai duduk didekat tugu agar menjaga keindahan tugu. Jangan sampai tugu yang sudah indah malah di coret-coret sehingga terlihat kumuh dengan adanya coretan itu. “Kita lakukan pendekatan masih saja tugu itu dicoret-coret, maka kita akan tempatkan Satpol-PP sementara di areal tugu tersebut. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi yang mencoret-coret tugu tersebut. Untuk itu saya himbau kepada seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga tugu perbatasan tersebut,”ajaknya.
Diberitakan sebelumnya.tugu perbatasan antara Kabupaten Lampura dan kabupaten Waykanan yang terletak di desa Muaraaman Kecamatan Bukitkemuning yang menjadi ‘penanda’ atau icon suatu daerah, kondisinya saat ini mulai memperhatikan. Padahal pembangunannya baru selesai beberapa bulan lalu.
Hampir diseluruh bangunan terkecuali bangunan bagian atas telah di penuhi oleh coretan oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Ada tulisan yang menggunakan spidol ada juga yang menggunakan cat semprot.
Ketika wartawan koran ini, menanyakan hal ini ke beberapa pemuda yang sedang bercengkrama bawah bangunan tugu, tulisan tersebut adalah ulah para remaja iseng. “Ini gawi jeme (kerjaan orang, Red) iseng Om,” ujar salah seorang remaja yang mengaku bernama Anton, Rabu (28/3/2017).
Dia mengatakan, aksi corat coret tersebut biasanya (diduga, Red) dilakukan oleh oknum ABG yang dengan sengaja menulis namanya dan nama kekasihnya atau kata-kata mirip puisi bahkan tidak jarang kata-kata yang berbau pornografi. “Kalau di tanya anak mana yang melakukan aksi pencoretan,? Jawabannya bisa jadi warga sekitar bisa juga orang lewat. Entah itu pengendara mobil atau motor ,” tegas Anton.
Sementara itu, Miswanto (45) salah seorang warga setempat yang menanam singkong di dekat tugu perbatasan membenarkan bahwa aksi corat coret tersebut biasanya dilakukan oleh ABG dan anak-anak berseragam sekolah namun dirinya enggan menegur karena takut di lawan.”Biasanya anak-anak sekolah yang sering ningkrong di situ, ada juga yang sedang pacaran. Namanya juga tugu baru, biasanya mereka foto-foto di tempat itu,” pungkasnya. (iswant/yoan)








