Harianpilar.com, Tanggamus – Sedikitnya sembilan rumah milik warga, satu masjid dan jalan pekon terancam hanyut, jika terjadi banjir bandang di bantaran sungai Way Gedung, Pekon Gedung, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus.
Salah seorang pemilik rumah yang ada di sisi barat bantaran sungai Way Gedung, Pedukuhan Pertiwi, Pekon Gedung tersebut, Roza Ubaidillah mengaku cemas akan ancaman bila terjadi banjir bandang. Pasalnya, tiga tahun silam, tepi sungai masih berjarak 15 meter dari kediamannya, namun kini tanah pembatas langsung dengan sungai, tinggal dua meter saja. Itu jika diukur dari pondasi rumah miliknya. Hal tersebut mengingat lokasi itu merupakan kelokan sungai. Dia mengaku, sejak tiga tahun yang lalu, dia bersama warga melalui aparatur Pekon telah menyampaikan keluhan pada Pemkab Tanggamus, bahkan Dinas Pekerjaan Umum telah meninjau lokasi tersebut.
“Dahulunya dekat bantaran sungai ada kebun kelapa milik keluarga saya, tapi akibat bantaran sungai terus terkikis air yang cukup deras mengakibatkan longsor, akhirnya pohon kelapa banyak yang tumbang, dan sekarang rumah, masjid dan jalan raya Pekon juga terancam longsor. Tiga tahun yang lalu kondisi ini telah kami laporkan kepada Pemkab Tanggamus, melalui aparat Pekon. Saat itu tim Pemkab melalui Dinas PU, mensurvey ke lokasi, tapi hingga kini belum ada tindakan,” ungkapnya, Minggu (6/11/2016).
Roza berharap Pemkab Tanggamus dapat segera menanggulangi bantaran sungai Way Gedung, dengan melakukan pembangunan beronjong ataupun talud sungai. Dikarenakan kondisi bantaran sungai saat ini sangat mengancam pemukiman dan fasilitas umum, serta insfrastruktur Pekon didaerah itu.
“Apa lagi sekarang ini cuaca tidak bisa diprediksi, kadang cuaca panas, besoknya hujan deras. Kami sangat was-was didalam rumah, takut musibah besar terjadi, kami mohon kepada Pemkab Tanggamus, agar merealisasikan pembangunan beronjong atau talud sungai Way Gedung ini,” harapnya.
Sementara itu Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus Asriyanto saat dikonfirmasi mengatakan, memang ada dua bidang yang menangani terkait bencana alam di BPBD, diantaranya yaitu kedaruratan dan normalisasi. Untuk kedaruratan sifatnya saat kejadian bencana yang terjadi kerusakan terhadap perumahan ataupun fasilitas umum, maka tim BPBD akan segera menurunkan tim reaksi cepat menanggulangan.
“Sedangkan untuk yang sifatnya harapan pembangunan kepada Pemkab ini, saya sarankan masyarakat melalui aparat pekonnya, untuk membuat proposal, kepada kami, nanti jika proposal sudah masuk, maka bidang yang menangani normalisasi sungai akan menindak lanjutinya,” kilah Asriyanto. (Agus)









