oleh

Menelisik ‘Buruk Rupa’ Proyek Disnakertrans Lampung

Harianpilar.com, Bandarlampung – Proyek pembangunan jalan sampai dengan onderlagh Jalan Desa Poros Pasar Minggu Sp3/Sp4 Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat milik Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Lampung tahun 2015 diduga kuat sarat penyimpangan. Hal itu terlihat dari ‘buruk rupa’ proyek tersebut.

Berdasarkan penelusuran Harian Pilar, proyek yang sudah rusak parah ini menggunakan dana APBN tahun 2015 dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI senilai Rp1,085 Miliar yang dikucurkan melalui Disnakertrans Provinsi Lampung. Proyek yang dikerjakan oleh Mulya Indah ini memiliki volume Panjang 1,75 Km dan Lebar 4 Meter.

Namun, pada pelaksanaanya proyek ini diduga kuat tidak sesuai Rencana Anggaran Belanja (RAB) dan kontrak. Selain karena kondisi jalan itu sudah rusak parah, kuat dugaan pengerjaanya proyek ini tidak sesuai dengan volume yang ditentukan dalam kontrak.

Dari total panjang proyek 1,75 Km diduga kuat hanya sekitar 1 Km yang yang dibuat Onderlagh, sementara sisanya hanya diratakan menggunakan alat berat. Parahnya, dalam pengerjaanya proyek ini disinyalir tidak seluruhnya menggunakan batu belah, tapi ada juga menggunakan batu bulat dan terdapat bagian yang hanya di sirambatu split. Pada pemasangan batu juga diduga tidak berdiri.

“Ini pengerjaanya dulu memang seperti asal-asalan mas. Ada yang hanya disiram split dan tidak dipasang batu belah. Jadi wajar kalau jalan ini baru beberapa bulan sudah rusak parah lagi seperti ini,” ujar warga setempat yang enggan namanya ditulis, baru-baru ini.

Menurutnya, panjang jalan yang dikerjakan menggunakan batu belah hanya sekitar 1 km, sementara sisanya hanya diratakan menggunakan alat berat.”Tapi banyak juga yang bukan batu belah, tapi menggunakan batu bulat. Makanya cepat rusak seperti ini,” ujarnya dengan nada kecewa.

Berdasarkan pantauan Harian Pilar, kondisi jalan ini memang sudah mengalami banyak kerusakan, batu-batu bertaburan dan terdapat bagian yang lebih banyak masih tanah. Kuat dugaan pengerjaan proyek ini asal-asalan dan tidak sesuai kontrak, sehingga secara kualitas memang meragukan. Seperti pemasangan batu disinyalir tidak berdiri sehingga tidak memiliki kekuatan dan mudah tabur.

Sementara, Kepala Disnakertrans Provinsi Lampung, Somiati Somat, tidak memberikan komentar apa-apa saat dikonfirmasi masalah ini. Saat dihubungi melalui ponselnya tidak menjawab, begitu juga saat dikonfirmasi melalui pesan singkat ke ponselnya. Meskin pun ponselnya dalam keadaan aktif. (Tim/Mico P)