Harianpilar.com, Bandar Lampung – Perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan sinyal positif pada September hingga Oktober 2026. Sejumlah indikator perdagangan dan nilai tukar pertani terus tumbuh.
Neraca perdagangan luar negeri mencatat surplus mencapai US$543,58 juta, ditopang lonjakan ekspor sebesar 23,79 persen secara tahunan. Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) juga menguat 1,91 persen menjadi 140,26 pada Oktober 2026.
Namun, di tengah penguatan perdagangan dan daya tukar petani, masyarakat masih dihadapkan pada tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi tahunan Oktober 2026 mencapai 3,83 persen, dengan komoditas pangan menjadi salah satu penyumbang utama.
Pranata Komputer Ahli Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo mengatakan perkembangan indikator ekonomi tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika perekonomian Lampung, mulai dari perdagangan luar negeri, daya beli petani, perkembangan harga, hingga aktivitas transportasi dan pariwisata.
Menurut Hermawan, surplus perdagangan merupakan indikator positif karena nilai barang yang diekspor Lampung masih jauh lebih besar dibandingkan nilai impornya.
“Surplus neraca perdagangan sebesar US$543,58 juta menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri Lampung masih berada dalam posisi positif. Nilai ekspor yang mencapai US$672,57 juta pada September 2026 menjadi faktor utama yang menopang surplus tersebut,” ujarnya, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Lampung pada September 2026 mencapai US$672,57 juta atau meningkat 23,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$543,32 juta.
Secara kumulatif Januari–September 2026, ekspor Lampung mencapai US$4.971,15 juta, meningkat 3,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$4.823,88 juta.
Menariknya, sebanyak 82,10 persen ekspor Lampung atau senilai US$4.081,55 juta dikirim melalui pelabuhan di dalam Provinsi Lampung. Kondisi ini menunjukkan peran strategis infrastruktur pelabuhan daerah dalam mendukung aktivitas perdagangan internasional.
Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$759,27 juta atau 15,27 persen dari total ekspor. Disusul Tiongkok sebesar US$577,59 juta dan Belanda US$405,83 juta.
Dari sisi komoditas, lemak dan minyak hewani/nabati mendominasi ekspor dengan nilai US$2.212,22 juta atau 44,50 persen. Berikutnya kopi, teh, dan rempah-rempah sebesar US$783,47 juta serta bahan bakar mineral US$737,66 juta.
Sementara itu, nilai impor Lampung pada September 2026 tercatat US$128,99 juta, meningkat 9,99 persen dibandingkan September 2025. Namun, secara kumulatif Januari–September 2026, impor justru turun 25,86 persen menjadi US$1.204,12 juta.
Di sektor harga, BPS mencatat Lampung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,54 persen pada Oktober 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Oktober 2025 sebesar 0,23 persen.
Secara tahunan, inflasi mencapai 3,83 persen, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 1,20 persen. Adapun inflasi tahun kalender hingga Oktober 2026 tercatat 2,86 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan tingkat inflasi 1,24 persen dan andil 0,41 persen.
Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi bulanan terbesar, yakni 0,22 persen. Disusul bawang merah 0,07 persen, serta tomat, beras, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil 0,04 persen.
Sementara secara tahunan, beras memberikan andil inflasi 0,39 persen, diikuti bensin 0,29 persen, cabai rawit 0,20 persen, minyak goreng 0,17 persen, dan cabai merah 0,16 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan stabilitas harga pangan masih menjadi pekerjaan penting, terutama karena komoditas kebutuhan sehari-hari memberikan pengaruh besar terhadap pengeluaran masyarakat.
Kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian. NTP Lampung pada Oktober 2026 mencapai 140,26 atau meningkat 1,91 persen dibandingkan September 2026.
Kenaikan tersebut didorong oleh penguatan seluruh subsektor pertanian. Peningkatan paling tinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang melonjak 12,72 persen menjadi 149,69.
Subsektor tanaman pangan meningkat 1,65 persen menjadi 120,15, tanaman perkebunan rakyat naik 1,19 persen menjadi 175,80, peternakan meningkat 0,03 persen menjadi 98,17, serta perikanan naik 0,72 persen menjadi 104,97.
Secara keseluruhan, indeks yang diterima petani mencapai 183,68, sedangkan indeks yang dibayar petani sebesar 130,96.
Penguatan NTP tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya posisi tukar petani, yakni perbandingan antara indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayarkan petani.
Di sektor pariwisata, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2026 tercatat 37,89 persen. Angka ini turun 4,02 poin dibandingkan Agustus 2026 dan turun 5,48 poin dibandingkan September 2025.
Sementara TPK hotel nonbintang mencapai 24,98 persen. Meski turun 1,04 poin secara bulanan, angka tersebut meningkat 2,10 poin secara tahunan.
Perkembangan transportasi juga menunjukkan pergerakan yang berbeda. Keberangkatan penumpang melalui Bandara Radin Inten II tercatat 45.272 orang, turun 19,89 persen secara bulanan.
Di Pelabuhan Bakauheni, jumlah penumpang berangkat mencapai 37.231 orang atau turun 21,01 persen dibandingkan Agustus 2026.
Sebaliknya, angkutan kereta api melalui Stasiun Tanjungkarang mencatat 76.103 penumpang, meningkat 1,65 persen secara bulanan dan 9,94 persen secara tahunan.
Hermawan menegaskan, berbagai indikator tersebut perlu dibaca secara menyeluruh karena setiap sektor memiliki dinamika dan kontribusi berbeda terhadap perekonomian daerah.
“Data statistik memberikan gambaran objektif mengenai kondisi ekonomi daerah. Pertumbuhan ekspor, penguatan NTP, perkembangan inflasi, hingga aktivitas transportasi dan pariwisata dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan dalam menentukan kebijakan pembangunan,” jelasnya.
BPS Provinsi Lampung berharap publikasi data statistik dapat dimanfaatkan sebagai landasan dalam memahami perkembangan ekonomi daerah sekaligus mendukung perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Dengan surplus perdagangan yang tetap kuat dan NTP yang meningkat, Lampung memiliki modal positif untuk menjaga momentum ekonomi. Namun, pengendalian inflasi pangan serta penguatan sektor pariwisata dan transportasi tetap menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. (*)










Komentar