Harianpilar.com,Bandarlampung – Penampilan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengenakan busana adat lengkap dengan Hanuang Bani menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam rangkaian Festival Krakatau XXV di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung.
Mengenakan busana adat dan Hanuang Bani, Gubernur tampil gagah sekaligus membawa pesan kuat tentang pentingnya menjaga identitas dan marwah budaya Lampung.
Hanuang Bani bukan sekadar pelengkap busana adat. Dalam tradisi Lampung Saibatin, kikat tersebut memiliki nilai simbolik yang berkaitan dengan keberanian, keteguhan dan tanggung jawab.
Karena itu, tampilnya seorang kepala daerah dengan simbol budaya tersebut dalam panggung festival menjadi pesan tersendiri. Budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari identitas dan karakter daerah.
Festival Krakatau XXV menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi budaya Lampung. Tapis, busana adat, seni pertunjukan hingga tradisi dari berbagai kabupaten/kota tampil dalam satu panggung yang melibatkan masyarakat, pelajar, seniman dan pemangku adat.
Kehadiran Gubernur dengan Hanuang Bani mempertegas pesan bahwa pembangunan Lampung tidak semata berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Identitas budaya juga menjadi bagian penting yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks budaya Lampung, Sekala Brak memiliki posisi penting dalam narasi sejarah dan identitas masyarakat Saibatin. Paksi Pak Sekala Brak terdiri dari Kepaksian Pernong, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Bejalan Diway dan Kepaksian Nyerupa yang masing-masing dipimpin Saibatin bergelar Sultan.
Pesan budaya semakin kuat ketika Gubernur Lampung tampil mengibarkan bendera sebagai tanda dimulainya rangkaian Festival Krakatau XXV.
Dengan busana adat dan Hanuang Bani, prosesi tersebut menghadirkan gambaran kuat tentang seorang pemimpin daerah membuka festival budaya dengan simbol budaya daerahnya sendiri.
Bagi masyarakat Lampung, momentum tersebut bukan sekadar seremoni. Ada pesan tentang bagaimana budaya ditempatkan di ruang publik dan diperkenalkan kepada generasi muda dengan cara yang lebih terbuka, modern dan membanggakan.
Festival pun menjadi ruang perjumpaan pemerintah, masyarakat, seniman dan pemangku adat.
Dimensi adat semakin terasa dengan hadirnya Paduka Yang Mulia (PYM) SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong.
Kehadiran Sultan Sekala Brak dalam momentum tersebut memperkuat pesan bahwa simbol-simbol adat yang tampil di panggung Festival Krakatau bukan sekadar ornamen seremonial.
Dalam konteks keluarga dan adat, Gubernur Lampung juga memiliki kedekatan dengan lingkungan keluarga Kerajaan Adat Sekala Brak. Hal ini memberikan warna tersendiri dalam momentum kebudayaan tersebut.
Sekala Brak selama ini menjadi salah satu pusat penting dalam narasi sejarah dan perkembangan masyarakat Lampung. Kawasan adat Paksi Pak Sekala Brak berada di dataran tinggi Pesagi, Lampung Barat, yang hingga kini menjadi salah satu pusat tradisi Saibatin.
Ketika simbol-simbol Sekala Brak hadir di panggung besar Festival Krakatau, yang ditampilkan bukan semata pakaian adat. Di dalamnya terdapat sejarah, identitas, nilai kepemimpinan dan pesan kepada generasi muda.
Kemajuan Lampung tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
Penampilan Gubernur dengan Hanuang Bani, kehadiran Sultan Sekala Brak serta pengibaran bendera menjadi satu rangkaian visual yang kuat.
Gagah dalam penampilan, berani dalam simbol, dan berakar pada budaya.
Di tengah derasnya modernisasi, pesan itu menjadi semakin penting: budaya Lampung bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi modal identitas yang dapat diangkat menjadi kekuatan daerah dan diperkenalkan ke tingkat nasional bahkan dunia. (*)









