oleh

Lampung Surplus Dagang, Ekspor Tembus US$504 Juta

Harianpilar.com,Bandarlampung –Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Lampung menunjukkan sinyal positif yang kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat neraca perdagangan luar negeri April 2026 mengalami surplus sebesar US$332,19 juta, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$238,41 juta.

Kinerja ekspor menjadi motor utama penguatan ekonomi daerah. Pada April 2026, nilai ekspor Lampung mencapai US$504,59 juta, melonjak 43,29 persen dibandingkan April 2025. Sementara nilai impor tercatat US$172,40 juta sehingga menghasilkan surplus perdagangan yang semakin lebar.

Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa, mengatakan capaian tersebut menunjukkan daya saing komoditas unggulan Lampung masih sangat kuat di pasar internasional.

“Surplus perdagangan yang terus terjaga menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri Lampung tetap resilien. Permintaan terhadap komoditas unggulan, terutama lemak dan minyak hewan maupun nabati, masih menjadi penopang utama kinerja ekspor daerah,” ujarnya dalam rilis resmi BPS Provinsi Lampung, Selasa (2/6).

Amerika Serikat, Tiongkok, dan Pakistan menjadi tiga negara tujuan utama ekspor Lampung sepanjang Januari-April 2026. Komoditas terbesar yang diekspor masih didominasi lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai mencapai US$889,42 juta atau 47,17 persen dari total ekspor.

Tak hanya perdagangan luar negeri, sektor pertanian juga menunjukkan perkembangan menggembirakan. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada Mei 2026 naik menjadi 128,01, meningkat 3,29 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut terutama didorong melonjaknya harga komoditas hortikultura seperti tomat, cabai merah, dan sawi hijau yang meningkatkan pendapatan petani.

“Peningkatan NTP mengindikasikan daya beli dan posisi tawar petani semakin membaik. Kenaikan paling tinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang tumbuh hingga 17,58 persen, menandakan petani memperoleh manfaat dari membaiknya harga komoditas di tingkat produsen,” kata Sabiel.

Di sisi lain, tekanan harga konsumen masih relatif terkendali. Pada Mei 2026, Lampung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,82 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar. Secara tahunan, inflasi tercatat 1,94 persen, masih berada pada level yang dinilai sehat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Komoditas cabai merah, bawang merah, tomat, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Namun sejumlah komoditas seperti telur ayam ras dan bawang putih membantu menahan laju kenaikan harga.

Sementara itu, sektor pariwisata dan transportasi juga menunjukkan geliat positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang naik menjadi 42,46 persen pada April 2026, sedangkan hotel nonbintang mencapai 25,45 persen.

Pada sektor transportasi, kereta api menjadi moda yang paling stabil dengan jumlah penumpang mencapai 85.795 orang atau tumbuh 5,74 persen dibandingkan April tahun lalu.

“Data April dan Mei 2026 menunjukkan sejumlah indikator ekonomi Lampung bergerak positif. Perdagangan luar negeri, kesejahteraan petani, aktivitas pariwisata, hingga transportasi memperlihatkan adanya penguatan ekonomi daerah yang cukup solid,” pungkas Sabiel.

Dengan surplus perdagangan yang terus meningkat, kesejahteraan petani yang membaik, serta inflasi yang masih terkendali, Lampung memasuki pertengahan tahun 2026 dengan optimisme baru sebagai salah satu daerah penopang pertumbuhan ekonomi nasional. (Ramona)

Komentar