Ini benar-benar langka. Jarang terjadi. Pun kalau terjadi, biasanya bukan untuk hal-hal yang vital.
Meminta maaf kadang dianggap merendahkan diri. Bahkan dianggap tak pantas. Utamanya bagi seorang pejabat tinggi pada rakyatnya.
Maaf bukan sekadar upaya agar kesalahan dimaklumi. Maaf berarti mengakui kesalahan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya atau memperbaiki ke depannya.
Itulah mengapa kata maaf terkadang begitu sulit untuk diucapkan. Kalaupun mudah diucapkan, sering kali tanpa diiringi komitmen tak mengulangi atau melakukan perbaikan.
Hannah Arendt, seorang pemikir politik paling berpengaruh abad ke-20 kelahiran Jerman, menggambarkan maaf dari seorang pemimpin kepada rakyatnya bukan sekadar deretan kata.
Ia adalah sebuah tindakan politis yang membebaskan.
Maaf membebaskan pemimpin dari beban kesalahan masa lalu, sekaligus membebaskan rakyat dari rasa dendam.
Melalui maaf, keduanya dapat melangkah maju untuk membangun kepercayaan.
Fenomena inilah yang menarik untuk dicermati dalam kunjungan lapangan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal (RMD), baru-baru ini.
Dalam video pendek di lokasi perbaikan jalan yang sudah belasan tahun terbengkalai, seorang ibu mengadukan dampak kerusakan jalan terhadap anak-anak sekolah.
Mulai dari ruang kelas yang kebanjiran hingga risiko kecelakaan saat hujan.
Alih-alih membela diri atau ngles, RMD justru secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan perbaikan tersebut.
Dengan penuh ketulusan, kata maaf itu ia hadirkan langsung di hadapan rakyatnya.
RMD secara langsung mendengarkan keluhan warga.
Nampak jelas dalam interaksi tersebut. Ada perubahan gaya komunikasi politik di Lampung.
Kita sedang melihat transisi dari gaya kepemimpinan yang cenderung instruktif dan emosional, menuju komunikasi yang lebih dialogis.
Selain menyampaikan permohonan maaf kepada warga atas keterlambatan perbaikan jalan tersebut.
Ia juga memohon pemahaman warga jika nantinya proses konstruksi menimbulkan debu atau ketidaknyamanan sementara.
Ucapan maaf RMD ini bukan basa-basi. Sebab diiringi dengan komitmen dan tanggung jawab.
RMD memberikan kepastian bahwa proyek tersebut ditargetkan selesai pada bulan Agustus mendatang.
Dan permintaan maaf RMD ini sejatinya bukan sepenuhnya atas kesalahannya.
Sebab RMD baru setahun menjabat Gubernur, sementara jalan itu sudah belasan tahun tak diperbaiki.
Sisi humanis RMD benar-benar terlihat dalam interaksi tersebut.
Ia tidak canggung melayani warga yang ingin berfoto bersama dan berdialog santai di lokasi proyek.
Kerendahan hati RMD dalam meminta maaf secara tulus ini bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat.
Ia adalah cerminan karakter yang muncul secara spontan.
Kehadiran pemimpin yang humanis seperti ini, bukan sekadar menyejukkan dunia politik.
Tapi juga mengakhiri masa di mana Lampung memiliki pemimpin emosional, suka menunjuk-nunjuk, bahkan kadang mengaku preman.
Semoga semakin banyak pemimpin berjiwa menyejukkan seperti ini. Sehingga rakyat benar-benar merasakan memiliki pemimpin yang mengayomi, bukan memiliki bos yang suka marah-marah…Wallahu a’lam bish-shawab. (*)










Komentar