oleh

Lampung Siap Jadi Lumbung Kesejahteraan Petani

Harianpilar,com. Bandarlampung – Lampung dikenal sebagai lumbung pangan nasional, dengan produksi padi, jagung, dan singkong melimpah. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah petani benar-benar menikmati kesejahteraan dari hasil panennya?

Menurut Prof. Dr. Nairobi, Dekan FEB Universitas Lampung (Unila), selama ini petani sering menghadapi harga anjlok, rafaksi yang mencekik, dan posisi tawar yang lemah. “Lampung memang lumbung pangan, tetapi belum otomatis menjadi lumbung kesejahteraan,” ujarnya, dalam siaran persnya, Rabu (4/3).

Solusi yang ditawarkan adalah penguatan koperasi modern melalui inisiatif Koperasi Merah Putih. Konsep ini mengambil pelajaran dari Thailand, Kenya, Rwanda, dan Eropa, di mana petani mendapatkan akses input, pendampingan teknis, kepastian pasar, serta pengolahan produk bernilai tambah.

Dengan skema ini, petani tidak lagi menjual hasil mentah secara individual. Misalnya, singkong diolah menjadi bahan baku semi-olahan, padi diproses melalui rice mill modern, sehingga harga jual lebih stabil dan menguntungkan. Koperasi juga menjadi pihak yang menandatangani kontrak secara kolektif dengan formula harga transparan dan mekanisme pembagian risiko yang adil.

“Lampung baru pantas disebut lumbung pangan jika petani sejahtera. Ukurannya bukan produksi semata, tetapi apakah pendapatan rumah tangga meningkat dan generasi muda tetap melihat masa depan di sektor pertanian,” tegas Prof. Nairobi.

Koperasi Merah Putih dirancang sebagai Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang profesional, transparan, dan demokratis, membuka jalan dari lumbung pangan menuju lumbung kesejahteraan. (*)