oleh

Enam Cabor di Lamtim Absen Verifikasi Faktual KONI Lampung

Harianpilar, com. Lampung Timur-Sebanyak 6 dari 30 Cabang Olahraga (Cabor) di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung Timur tidak menghadiri agenda verifikasi faktual yang digelar oleh KONI Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut berlangsung di GOR Tuah Bepadan, Sukadana, pada Jumat (27/2/2026) pagi.

​Verifikasi faktual ini merupakan bagian dari program pendataan menyeluruh untuk memastikan eksistensi kepengurusan, ketersediaan sarana prasarana, serta validitas data atlet di tingkat kabupaten/kota. Dari total 30 Cabor yang terdaftar di Lampung Timur, tercatat hanya 24 Cabor yang hadir memenuhi panggilan tim verifikasi.

​Koordinator Tim 3 Verifikasi KONI Lampung, Riagus Ria, menyatakan bahwa meski kepengurusan KONI Lampung Timur saat ini belum definitif, proses verifikasi harus tetap berjalan demi menjamin kesiapan atlet menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) mendatang.

​”Meski kepengurusan KONI Lamtim belum definitif, verifikasi tetap berjalan lancar. Kami berharap kepengurusan definitif segera terbentuk demi kemajuan olahraga di daerah ini. Porprov sudah sangat dekat,” ujar Riagus di sela-sela kegiatan.

​Riagus juga mengingatkan bahwa masa jabatan Pelaksana Tugas (PLT) Ketua KONI Lampung Timur, Rini Mulyati, akan segera berakhir pada akhir Februari ini. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya kekosongan kepemimpinan jika tidak segera diambil langkah taktis.
​Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Lampung Timur untuk memberikan atensi serius terhadap kemelut organisasi ini agar tidak berlarut-larut.

​”Kami berharap Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bapak Bupati, dapat peduli. Jangan biarkan kemelut organisasi ini menghambat prestasi. Olahraga bukan sekadar hobi, tapi juga indikator kemajuan suatu daerah,” tegasnya.

​Meskipun kondisi internal organisasi terkesan seperti “ayam kehilangan induk”, antusiasme para pengurus Cabor dan atlet di Lampung Timur terpantau tetap tinggi. Secara umum, mereka tetap menjalankan program latihan secara mandiri meski minim pengawasan dan koordinasi dari induk organisasi kabupaten.
​Dengan sisa waktu yang sempit menuju ajang olahraga terbesar di tingkat provinsi, kepastian struktur organisasi menjadi kunci utama agar dukungan anggaran dan pembinaan atlet dapat tersalurkan dengan tepat sasaran.(*)