Harianpilar.com, Bandar Lampung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui penguatan akses pembiayaan bagi para petani di kawasan hutan. Langkah ini menjadi bagian dari program strategis OJK dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya bagi petani hutan sosial.
Deputi Direktur Pengawasan LJK II OJK Provinsi Lampung, Indah Puspitasari, mengungkapkan bahwa OJK telah melakukan pemetaan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Kehutanan Provinsi Lampung untuk mengidentifikasi wilayah dan komoditas unggulan yang potensial dikembangkan.
“Hasil pemetaan menunjukkan bahwa Tanggamus memiliki potensi besar, terutama produk unggulan seperti kopi dan alpukat Saburai. Ini yang akan menjadi fokus pengembangan kami,” ujar Indah usai kegiatan Media Update Journalist Class dan Media Gathering se-Sumbagsel yang digelar di Holiday Inn Bandar Lampung, 28–29 November 2025.
Indah menjelaskan, tantangan utama petani hutan sosial bukan hanya pada peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, tetapi juga pada keterbatasan permodalan dan akses terhadap pembeli dalam skala besar.
“Banyak petani yang memiliki produk bagus—mulai dari kopi, alpukat, hingga madu hutan—namun kesulitan mendapatkan pembeli dalam jumlah signifikan. Mereka juga ingin naik kelas, tetapi modal terbatas. Di sinilah peran OJK,” jelasnya.
OJK Lampung membantu memfasilitasi petani dengan perbankan, termasuk BRI dan BPD, untuk membuka peluang pembiayaan yang lebih besar. Dengan memastikan bahwa produk petani memiliki pasar yang jelas, perbankan diyakini lebih mudah memberikan kredit.
“Kita pastikan dulu produknya layak dan ada pasarnya. Kalau sudah ada pembeli tetap, perbankan akan percaya. Ini bukan soal mengelola hutannya, tetapi meningkatkan kapasitas usaha dan akses modal petani,” tegas Indah.
Program ini didasari pemetaan komprehensif yang dilakukan oleh Balai Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Mereka memetakan petani berpotensi, kapasitas produksi, serta komoditas yang layak dikembangkan.
“Hasil pemetaan ini menjadi dasar kami dalam menghubungkan petani dengan lembaga keuangan. Mana petani yang prospektif, berapa kapasitas produksinya, dan apa komoditas unggulannya, semuanya sudah diidentifikasi,” tambah Indah.
Melalui skema ini, OJK berharap dapat mempercepat pengembangan ekonomi daerah, khususnya sektor pertanian dan kehutanan sosial yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian ribuan keluarga di Lampung.
“OJK berkontribusi melalui peningkatan kapasitas, akses permodalan, dan penguatan rantai pasok. Jika petani naik kelas, maka ekonomi daerah pun tumbuh,” tutupnya. (Ramona).









