Harianpilar.com, Bandar Lampung – Di bawah rindangnya pepohonan dan di hadapan megahnya punden berundak Taman Purbakala Pugung Raharjo, suara tawa anak-anak berpadu dengan kisah hangat tentang kasih sayang seorang ibu.
Komunitas NGAJAR (Ngajak Anak Belajar) bersama Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpusnas RI menggelar kegiatan Trip Literasi 2025, Minggu (12/10), dengan menghadirkan sesi mendongeng dan membaca nyaring buku anak di area Punden 6—punden terbesar di kompleks situs purbakala tersebut.
Suasana pagi tampak hidup. Rumput hijau membentang luas, dan di kejauhan tampak Kolam Megalitikum yang menambah kesan magis kawasan bersejarah itu. Anak-anak duduk di atas tikar, menatap penuh antusias ke arah Kak Yoga Pratama, relawan literasi RELIMA Perpusnas RI, yang tampil dengan boneka tangan sebagai media mendongeng.
Begitu Kak Yoga memasuki area, suasana langsung riuh. Ia mengajak anak-anak bernyanyi bersama lewat lagu “Kalau Kau Suka Hati Tepuk Tangan” yang diubah menjadi “Kalau Kau Suka Baca Bilang Saya”. Cara ini membuat anak-anak larut dalam kegembiraan sebelum cerita dimulai.
“Hari ini waktunya Nana dan Ibu mencari makan di hutan. Ia sangat bersemangat!” ujar Kak Yoga dalam siaran persnya, Senin (13/10).
Dalam sesi membaca nyaring tersebut, Kak Yoga membacakan buku “Sehari Tanpa Ibu” karya Maharhanie Septi dan Deli Fatmawati, dengan ilustrasi Bella Ansori. Buku ini merupakan bagian dari seri Akhlak Mulia dalam Nasehat Luqman terbitan Grow TheSeed, yang mengangkat nilai moral dan spiritual berdasarkan kisah Luqman Al-Hakim dalam Al-Qur’an.
Cerita “Sehari Tanpa Ibu” menggambarkan perjalanan seorang anak bernama Nana yang belajar memahami kasih sayang ibunya setelah merasakan kehilangan sementara. Dengan gaya mendongeng interaktif, intonasi yang hidup, dan penggunaan boneka tangan, Kak Yoga membuat anak-anak larut dalam cerita yang lembut namun penuh makna.
“Kalau membaca disertai ekspresi dan alat bantu seperti boneka, anak-anak lebih mudah memahami pesan dari cerita,” ujar Kak Yoga sambil memainkan boneka tangan lucu yang kembali mengundang tawa.
Bagi Komunitas NGAJAR, kegiatan ini bukan sekadar membaca buku, tetapi juga upaya mempertemukan literasi dengan budaya dan sejarah. Menggelar aktivitas literasi di situs purbakala menjadi simbol bahwa membaca tidak terbatas ruang kelas, tetapi bisa tumbuh di mana saja—bahkan di antara peninggalan leluhur.
“Trip Literasi ini kami adakan agar anak-anak dapat belajar tentang nilai, sejarah, dan budaya secara menyenangkan,” ujar Lutfhi, ketua panitia sekaligus volunteer Komunitas NGAJAR.
“Kami ingin mengajak mereka menyadari bahwa literasi bukan hanya membaca huruf, tapi juga memahami kehidupan,” tambahnya.
Usai sesi mendongeng, anak-anak diajak berkeliling area punden untuk mengenal peninggalan masa lalu sambil mengikuti lomba literasi yang telah disiapkan para volunteer NGAJAR dari Kota Bandar Lampung. Beberapa anak bahkan masih menirukan gaya bicara boneka tangan Kak Yoga—tanda betapa kisah yang mereka dengar membekas di hati.
Dengan latar hijau Taman Gautama dan megahnya Punden 6, kegiatan membaca nyaring kali ini menjadi pengalaman literasi yang berbeda: hangat, edukatif, dan bernuansa sejarah. Di sanalah literasi tumbuh bukan hanya lewat kata, tetapi juga melalui keindahan alam dan kedekatan manusia dengan nilai-nilai kemanusiaan. (Ramona)









