oleh

Siapkan Investasi Rp26,76 Triliun, PTPN I Gaspol Hilirisasi Perkebunan

Harianpilar.com,  JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyiapkan investasi senilai Rp26,76 triliun untuk memperkuat hilirisasi industri perkebunan dari hulu hingga hilir. Langkah strategis ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Investasi tersebut menjadi bagian dari transformasi bisnis PTPN I untuk mengoptimalkan potensi perkebunan, memperkuat industri pengolahan, dan meningkatkan daya saing perusahaan di tengah tuntutan industri yang semakin kompetitif.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, pengembangan bisnis perusahaan memiliki keterkaitan erat dengan agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama swasembada pangan, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Asta Cita Presiden Prabowo memiliki korelasi erat dengan bidang bisnis PTPN I. Sumber daya lahan, komoditas perkebunan, serta jaringan operasional yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal perusahaan untuk mendukung agenda tersebut,” kata Rivai di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut dia, investasi tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi bahan baku, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengolahan sehingga komoditas perkebunan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dari total investasi yang direncanakan, sebesar Rp16,34 triliun dialokasikan untuk pengembangan sektor hulu dengan cakupan areal perkebunan mencapai 342.321 hektare. Sementara Rp10,42 triliun lainnya disiapkan untuk pembangunan 25 fasilitas pengolahan di sejumlah wilayah strategis Indonesia.

Pengembangan sektor hulu mencakup peremajaan tanaman dan optimalisasi komoditas unggulan, seperti jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, dan pala. Adapun pembangunan fasilitas pengolahan di sektor hilir ditujukan untuk menghubungkan produksi bahan baku dengan industri pengolahan dan kebutuhan pasar.

Bidik Peluang Bioetanol dan Energi Terbarukan

Salah satu potensi yang turut dikaji PTPN I adalah pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bioetanol. Peluang ini sejalan dengan upaya pengembangan energi baru terbarukan sekaligus membuka alternatif pemanfaatan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Namun, pengembangan tersebut tetap mempertimbangkan kelayakan bisnis, ketersediaan bahan baku, dan kebutuhan pasar agar investasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Rivai menegaskan, hilirisasi menjadi langkah penting untuk mengubah pola penciptaan nilai dalam industri perkebunan. Menurutnya, keberhasilan sektor ini tidak cukup diukur dari luas lahan dan volume produksi, tetapi juga dari kemampuan mengolah komoditas menjadi produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Hilirisasi bagi PTPN I bukan sekadar pengembangan bisnis baru, melainkan upaya mengubah cara perusahaan menciptakan nilai. Kekuatan perkebunan tidak cukup diukur dari luas lahan atau volume produksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang dihasilkan ketika komoditas diolah menjadi produk turunan,” ujarnya.

Libatkan Petani dan Perkuat Kepastian Pasar

Untuk memastikan investasi berjalan efektif, PTPN I menyiapkan pengawalan proyek melalui studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok, serta penguatan kepastian pasar dengan melibatkan pembeli siaga atau off-taker.

Strategi tersebut diharapkan mampu memastikan pembangunan fasilitas pengolahan selaras dengan ketersediaan bahan baku dan kebutuhan pasar, sehingga risiko bisnis dapat dikelola sejak tahap perencanaan.

Selain memperkuat rantai pasok, perusahaan juga mendorong kemitraan dengan petani dan pelaku usaha lokal, termasuk melalui pengembangan skema perkebunan plasma. Kemitraan ini diharapkan memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai industri sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi daerah.

“Petani merupakan bagian dari garda terdepan dalam menopang ketahanan pangan bangsa. Karena itu, melalui kemitraan dan pengembangan plasma, keberhasilan hilirisasi harus memberikan manfaat nyata bagi petani dan mitra lokal,” kata Rivai.

Dari sisi pelaksanaan, hingga awal Oktober 2026, pengembangan areal karet PTPN I tercatat mencapai 1.479 hektare, sedangkan pengembangan jagung mencapai 1.125 hektare.

Secara keseluruhan, realisasi pengembangan komoditas unggulan di sektor budidaya atau on-farm diproyeksikan mencapai 11.516 hektare, setara sekitar 59–60 persen dari target tahunan 2026.

Percepatan program dilakukan melalui koordinasi lintas fungsi, pengendalian anggaran, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.

Melalui investasi Rp26,76 triliun tersebut, PTPN I menargetkan terbentuknya rantai nilai industri perkebunan yang lebih kuat, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk turunan.

Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing perusahaan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, memperluas kesempatan usaha, serta mendukung agenda ketahanan pangan dan energi nasional. (Ramona).

Komentar