Harianpilar.com, Bandar Lampung – Kembalinya dr. Lukman Pura menjabat Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) menggantikan dr. Imam Ghozali menyisakan pekerjaan rumah (PR) besar yang harus secepatnya diselesaikan.
Pertama, mengembalikan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) ke SIMRS mandiri yang lebih efisien secara anggaran dan berdaulat secara data.
Kedua, menaikkan dan menjamin kelancaran pembayaran jasa pelayanan (Jaspel) pegawai RSUDAM.
Ketiga, meningkatkan pelayanan terhadap pasien secara humanis dan cepat tanggap.
”Tiga aspek itu menjadi PR yang harus segera diselesaikan oleh Dirut RSUDAM yang baru karena menjadi sorotan publik. Karena berpengalaman menjadi Dirut, sepertinya tidak sulit bagi dr. Lukman untuk segera menuntaskan masalah itu,” ujar Akademisi Unila, Yusdianto, baru-baru ini.
Yusdianto mencontohkan persoalan SIMRS RSUDAM yang dinilainya sangat mencurigakan dan janggal secara kebijakan. Awalnya, SIMRS menggunakan pihak ketiga dengan biaya sangat mahal, yakni sekitar 2,5 persen dari tagihan BPJS atau berkisar Rp900 juta per bulan.
Masalah besar timbul ketika pihak ketiga menutup atau membatasi akses data yang menyebabkan pelayanan RSUDAM sangat terganggu.
”Karena metode pihak ketiga itu mahal secara anggaran dan tidak berdaulat secara data, maka Pemprov Lampung dan RSUDAM membangun SIMRS Mandiri dengan anggaran miliaran. Meski informasinya ada kendala keterbatasan SDM,” terang Yusdianto.
Anehnya, meski sudah memiliki SIMRS Mandiri, manajemen RSUDAM justru kembali menggunakan pihak ketiga dengan biaya sekitar 1,5 persen dari tagihan BPJS. “Nilai 1,5 persen itu tetap besar dan tidak efisien. Kalau kendalanya di SDM, ya cari solusi mengatasi masalah SDM. Bukan malah mengembalikan SIMRS ke pihak ketiga,” cetusnya.
Begitu juga persoalan Jaspel dan pelayanan, lanjutnya, harus segera diatasi karena berkaitan dengan hak pegawai dan kualitas pelayanan.
“Jangan dibiarkan berlarut-larut karena ini menyangkut kualitas layanan. RSUDAM ini wajah Gubernur di bidang kesehatan. Harapannya ini bisa menjadi legacy dr. Lukman Pura di akhir masa pengabdiannya,” pungkasnya. (*)










Komentar