BOGOR — Tandan kosong (tankos) kelapa sawit yang selama ini identik sebagai limbah pengolahan sawit kini dikembangkan menjadi material bernilai tambah. PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 2 bersama IPB University mengembangkan serat tankos menjadi berbagai produk berbasis green composite yang ramah lingkungan.
Inovasi tersebut berawal dari penelitian Dr. Siti Nikmatin dari IPB University yang telah dirintis sejak 2015. Dalam penelitiannya, Siti memanfaatkan serat tandan kosong yang berasal dari limbah pabrik kelapa sawit PTPN I Regional 2 atau eks PTPN VIII di Cikasungka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Melalui penelitian di Laboratorium Fakultas MIPA Departemen Fisika IPB University dan Pusat Studi Sawit IPB, serat tankos dikembangkan menjadi material komposit yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Tidak hanya menjadi bahan penelitian, material tersebut kini telah diaplikasikan menjadi sejumlah produk, mulai dari helm pengaman, sepatu, sandal, produk fesyen, hingga rompi antipeluru.
Siti Nikmatin mengatakan, ide pengembangan tersebut muncul dari besarnya potensi tandan kosong yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Melalui serangkaian penelitian dan pengujian laboratorium, kami mengembangkan formula untuk mengolah serat tandan kosong menjadi material komposit,” kata Siti saat ditemui di Bogor, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, material hasil penelitian kemudian dikembangkan menjadi produk fungsional yang dapat menjawab kebutuhan industri maupun masyarakat.
“Kami bisa membuat helm, sepatu, sandal, dan beberapa produk lainnya dari green composite. Kemudian ada komunikasi dengan PTPN I Regional 2 yang memiliki bahan baku tandan kosong. Dari situ kami membuat kesepakatan bersama untuk mengembangkan hasil penelitian menjadi produk industri manufaktur,” ujarnya.
Dari Riset ke Produk Industri
Kolaborasi PTPN I dan IPB University tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan keuntungan komersial. Kerja sama itu juga menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di laboratorium.
Dalam kerja sama tersebut, PTPN I Regional 2 memberikan dukungan pembiayaan untuk pengembangan dan produksi sejumlah produk sesuai kebutuhan perusahaan. Sementara IPB University berperan dalam pengembangan teknologi dan formula material.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada PTPN I Regional 2 atas kerja sama ini. Dukungan tersebut memungkinkan hasil penelitian kami ditindaklanjuti menjadi produk. Saat ini kami terus mencari formula yang paling tepat agar produk semakin kompetitif dan berkelanjutan,” kata Siti.
Dalam pengembangan produk, IPB University melalui Dr. Siti Nikmatin juga menggandeng startup PT Material Data Space (MDS) dan PT Interstisi Material Maju (IMM) sebagai entitas operasional.
Kolaborasi tersebut telah menghasilkan ribuan helm pengaman serta sejumlah produk fesyen dan perlengkapan lain sesuai kebutuhan dan pesanan PTPN.
Siti mengatakan, teknologi yang dikembangkan saat ini telah mampu mendukung produksi dalam jumlah besar. Namun, produksi masih dilakukan berdasarkan pesanan atau purchase order (PO), sehingga belum berlangsung secara kontinu dalam skala industri.
“Produksi sudah bisa dilakukan dalam skala besar, tetapi saat ini masih berdasarkan PO. Untuk helm pesanan PTPN I jumlahnya sudah cukup banyak. Begitu juga produk pelindung diri seperti rompi antipeluru yang memenuhi standar Polri, telah kami produksi dalam skala terbatas,” jelasnya.
Tak Sekadar Ramah Lingkungan
Dari sisi standar produk, inovasi berbasis serat tankos tersebut juga telah melalui berbagai tahapan pengujian.
Siti menyebut helm berbahan serat tandan kosong yang dikembangkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara material antipeluru kaliber 9 x 19 milimeter telah memperoleh sertifikat dari Dislitbang AD pada 2025.
Menurutnya, penggunaan serat berbasis bahan nabati menjadi salah satu keunggulan utama material tersebut karena mengusung konsep green composite.
“Produk-produk ini telah melalui berbagai pengujian sesuai standar yang dipersyaratkan. Dari sisi biaya, material yang kami kembangkan juga memiliki potensi lebih kompetitif dibandingkan komposit yang beredar di pasaran,” katanya.
Ia berharap dukungan pemerintah dan dunia usaha terus diperkuat sehingga hasil riset tersebut dapat dikembangkan lebih luas dan masuk ke pasar secara berkelanjutan.
PTPN I Dorong Ekonomi Sirkular
Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras mengatakan, kolaborasi dengan IPB University merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong hilirisasi riset dan inovasi.
Menurutnya, hasil penelitian tidak seharusnya berhenti di laboratorium, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk yang memberikan nilai tambah dan manfaat nyata.
“Bagi PTPN I, pemanfaatan tandan kosong ini bukan sekadar mengolah limbah, tetapi bagaimana mengubah sesuatu yang sebelumnya belum memiliki nilai tambah menjadi material komposit yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri dan masyarakat,” ujar Abdul Rivai Ras.
Ia menilai pemanfaatan tankos menjadi produk komposit sejalan dengan konsep hilirisasi, ekonomi sirkular, serta pengembangan inovasi berbasis sumber daya yang tersedia.
“Ini sejalan dengan semangat hilirisasi, ekonomi sirkular, dan pengembangan inovasi berbasis sumber daya yang kita miliki,” katanya.
Abdul Rivai menambahkan, sinergi antara perusahaan, perguruan tinggi, dan pelaku industri perlu terus diperkuat agar inovasi dapat bergerak dari tahap penelitian menuju penerapan hingga komersialisasi.
“Kami ingin membangun ekosistem kolaborasi yang menghubungkan riset, industri, dan kebutuhan pasar. Ketika inovasi mampu menghasilkan produk yang kompetitif, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat lebih luas, di situlah nilai strategis sebuah kolaborasi benar-benar hadir,” pungkasnya. (Ramona)






Komentar