Harianpilar.com, Bandar Lampung – Ekonomi Lampung tumbuh dan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) melonjak dalam 15 tahun terakhir. Namun, pertumbuhan itu dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar: seberapa besar nilai tambah dari kekayaan pertanian Lampung yang benar-benar tinggal dan dinikmati masyarakat daerah?
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan memaparkan, PDRB Lampung meningkat sekitar 3,5 kali lipat dalam 15 tahun, dari sekitar Rp150 triliun pada 2010 menjadi Rp523 triliun pada 2025. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2025 tercatat 5,28 persen.
Namun, besarnya angka pertumbuhan belum otomatis menunjukkan kuatnya struktur industri pengolahan. Kontribusi manufaktur Lampung, menurut paparan Dany, masih berada pada kisaran 17–20 persen.
“Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany dalam siaran persnya, Jumat (27/9/2026).
Menurut dia, tantangan Lampung bukan semata meningkatkan produksi komoditas, melainkan memastikan proses pengolahan dan penciptaan nilai tambah berlangsung lebih banyak di daerah.
Dany menyoroti rantai nilai komoditas pertanian yang dinilai masih berhenti terlalu awal. Nilai sektor pertanian Lampung mencapai sekitar Rp150 triliun, tetapi dari angka tersebut, berdasarkan paparannya, baru sekitar Rp20–30 triliun yang masuk ke industri pengolahan.
Kondisi itu menunjukkan masih terbukanya ruang besar bagi Lampung untuk mengembangkan industri berbasis komoditas lokal.
Lampung memiliki modal bahan baku yang kuat. Kementerian Pertanian mencatat Lampung sebagai sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi sekitar 7,9 juta ton pada 2024.
Dalam orasinya, Dany menyebut nilai ekonomi ubi kayu sekitar Rp10,6 triliun dan pisang sekitar Rp25,3 triliun. Lampung juga memiliki posisi strategis pada komoditas jagung dan kopi serta potensi lada hitam.
Namun, besarnya produksi tersebut harus diikuti kemampuan mengolah komoditas menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana nilai tambahnya tinggal di Lampung,” menjadi garis besar pesan yang disampaikan Dany dalam orasinya.
Ia menawarkan kerangka DAI: distinctive, adaptive, dan inclusive sebagai pendekatan dalam membangun ekosistem hilirisasi Lampung.
Distinctive berarti daerah harus memilih keunggulan yang bersumber dari kekuatan komoditas Lampung sendiri. Adaptive menuntut kesiapan industri, energi dan infrastruktur. Sedangkan inclusive memastikan petani dan pelaku ekonomi di daerah memperoleh manfaat lebih besar dari proses hilirisasi.
Pada aspek adaptif, Dany menyoroti pengembangan kawasan Katibung, Kawasan Industri Lampung II (KAIL II), dan Rejosari.
Katibung direncanakan sebagai kawasan energi terintegrasi, termasuk usulan pembangunan kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari dan pengembangan bioetanol berbahan baku pertanian. Dalam paparannya, peletakan batu pertama kawasan tersebut ditargetkan pada 2027.
Sementara KAIL II dipersiapkan sebagai ruang pengembangan industri pengolahan berbasis potensi agro. Rejosari juga dijajaki untuk pengembangan industri bioetanol berbahan baku sorgum.
Rencana tersebut, kata Dany, perlu diterjemahkan menjadi kegiatan industri nyata sehingga mampu menyerap bahan baku lokal, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Hilirisasi, menurut Dany, tidak cukup hanya membangun pabrik dan kawasan industri. Petani sebagai pemasok bahan baku juga harus mendapatkan manfaat.
Ia mencontohkan penggunaan bed dryer di Pringsewu. Dengan teknologi pengeringan, proses yang secara manual dapat memakan waktu hingga 15 hari dapat dipangkas menjadi sekitar 10–12 jam.
Pengeringan yang lebih cepat memungkinkan gabah memiliki mutu dan daya simpan lebih baik. Petani pun memiliki pilihan untuk tidak langsung menjual hasil panennya ketika harga sedang rendah.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi juga menyangkut teknologi pascapanen, efisiensi, kualitas produk, serta kemampuan petani menentukan waktu penjualan.
Dany mendorong agar pengembangan industri Lampung terhubung dengan kekuatan akademik Unila. Perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam riset pengolahan, peningkatan mutu produk, teknologi pascapanen hingga pengembangan usaha yang menjawab kebutuhan petani dan industri.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan ekonomi Lampung tidak berhenti pada tingginya angka produksi maupun bertambahnya kawasan industri.
Ukuran akhirnya adalah berapa banyak pekerjaan, pendapatan, dan nilai tambah yang tercipta serta bertahan di Lampung.
Dany Amrul Ichdan merupakan alumnus S1 Manajemen Ekonomi Unila tahun 1998. Ia melanjutkan pendidikan magister pada 2000 dan meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran pada 2011.
Sebelum bergabung dengan PT Mineral Industri Indonesia (Persero), Dany antara lain pernah memimpin PT Pertamedika–IHC dan PT Pertamedika Sentul. (Ramona)










Komentar