oleh

Foto Jurnalistik Bukan Sekadar Gambar

Harianpilar.com, Bandar Lampung – Foto jurnalistik bukan sekadar pelengkap berita. Sebuah foto memiliki kekuatan sebagai bahasa visual untuk merekam fakta, menggambarkan suasana peristiwa, sekaligus membantu masyarakat memahami informasi secara lebih nyata.

Hal itu disampaikan Pengurus PWI Lampung, Syahroni Yusuf, saat memberikan pelatihan fotografi kepada personel Dinas Penerangan (Dispen) Brigif 4 Mar/BS di Bandarlampung, Rabu (16/9/2026).

Menurut Syahroni, foto jurnalistik merupakan perpaduan kata dan gambar yang dipublikasikan melalui media massa, baik cetak maupun daring. Karena itu, foto yang dihasilkan fotografer harus mampu menjelaskan sebuah peristiwa tanpa mengubah fakta.

“Foto jurnalistik itu bukan sekadar gambar, tetapi merupakan bahasa visual untuk menyampaikan fakta kepada masyarakat. Karena itu, foto harus mampu memberikan informasi mengenai sebuah peristiwa secara jelas,” ujarnya.

Syahroni menegaskan, prinsip utama fotografi jurnalistik adalah fakta. Fotografer harus merekam peristiwa sebagaimana terjadi di lapangan dan tidak melakukan rekayasa yang dapat mengubah substansi kejadian.

“Foto jurnalistik harus berangkat dari fakta. Bukan rekaan atau sesuatu yang dibuat-buat. Fotografer harus mampu merekam peristiwa sebagaimana yang terjadi di lapangan,” ujarnya.

Ia menyebut ada tiga nilai penting yang harus diperhatikan fotografer, yakni fakta, informatif dan estetika. Fakta menjadi fondasi utama, informasi membuat foto memiliki makna jurnalistik, sedangkan estetika menjadi nilai tambah sepanjang tidak mengorbankan kebenaran.

Dalam pelatihan tersebut, Syahroni juga menjelaskan berbagai jenis foto jurnalistik. Mulai dari spot foto, foto berita umum, foto feature, foto esai, foto sosok, human interest hingga foto sport.

Spot foto, misalnya, banyak digunakan untuk menangkap peristiwa spontan seperti bencana, kebakaran atau kecelakaan. Sedangkan foto berita umum lebih sering digunakan dalam kegiatan yang telah terjadwal, seperti agenda pemerintahan.

Foto feature lebih menonjolkan budaya, seni, kehidupan masyarakat maupun berbagai hal unik. Sementara foto esai menggunakan rangkaian gambar untuk menyampaikan cerita sebuah peristiwa secara lebih utuh.

Adapun foto sosok berfokus pada tokoh, pelaku, korban atau saksi yang berkaitan dengan peristiwa. Foto human interest mengangkat sisi kehidupan dan kemanusiaan, sedangkan foto sport menuntut kemampuan fotografer menangkap momentum secara cepat dan tepat.

“Tidak semua peristiwa difoto dengan pendekatan yang sama. Masing-masing jenis foto jurnalistik memiliki karakter dan tantangan yang berbeda,” ujarnya.

Syahroni mengingatkan, kemampuan teknis mengambil gambar harus dibarengi kemampuan membaca nilai berita. Kepentingan umum, kebaruan, konflik, nilai kemanusiaan, sosok berpengaruh, peristiwa luar biasa serta keunikan merupakan sejumlah pertimbangan dalam menentukan apakah sebuah momentum memiliki nilai jurnalistik.

“Fotografer harus bisa melihat apakah sebuah peristiwa memiliki nilai berita. Kepentingan umum, sesuatu yang baru, konflik, nilai kemanusiaan, tokoh, peristiwa luar biasa, maupun sesuatu yang unik bisa menjadi pertimbangan,” ujarnya.

Tak kalah penting, foto jurnalistik tidak berdiri sendiri. Menurut Syahroni, terdapat tiga unsur yang saling melengkapi, yakni gambar, caption dan nama fotografer.

Caption berfungsi memberikan konteks kepada pembaca. Karena itu, keterangan foto harus disusun secara jelas dengan memperhatikan unsur 5W+1H, yakni siapa, apa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana.

“Foto tidak berdiri sendiri. Ada gambar, caption, dan nama fotografer. Caption harus memberikan informasi yang jelas sehingga pembaca mengetahui siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana peristiwa itu terjadi,” ujarnya.

Pelatihan juga menyoroti aspek etika. Fotografer dituntut menjaga akurasi, tidak memanipulasi elemen penting dalam gambar serta menghormati privasi dan martabat subjek foto, terutama korban dan kelompok rentan.

“Jangan sampai karena mengejar gambar yang bagus, kita mengabaikan privasi dan martabat orang yang menjadi objek foto. Terutama ketika kita memotret korban atau kelompok yang rentan,” ujarnya.

Syahroni menegaskan, pengolahan teknis foto diperbolehkan sepanjang tidak mengubah substansi peristiwa.

“Foto jurnalistik harus jujur. Kita boleh membuat foto menjadi lebih menarik secara teknis, tetapi jangan mengubah substansi atau fakta yang ada di dalam foto,” ujarnya.

Dalam sesi pelatihan, sejumlah karya bersejarah dalam foto jurnalistik turut dibahas, termasuk karya Sholihuddin dari Jawa Pos yang meraih penghargaan pada World Press Photo 1996 serta karya Kevin Carter, The Vulture and the Little Girl pada 1994.

Karya-karya tersebut menjadi bahan pembelajaran mengenai kekuatan foto dalam merekam realitas sekaligus membuka diskusi tentang persoalan kemanusiaan dan etika jurnalistik.

Syahroni menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa kekuatan foto jurnalistik bukan semata-mata pada keindahan visual. Lebih dari itu, foto harus mampu menyampaikan fakta dan membuat publik memahami sebuah peristiwa.

“Pada akhirnya, foto jurnalistik bukan hanya untuk memperindah berita. Foto harus bisa membawa pembaca melihat dan memahami suasana dari sebuah peristiwa secara lebih nyata,” pungkasnya. (Ramona)

Komentar