oleh

Dari Halaman SDN 1 Budidaya, JAPFA Menanam Benih Generasi Emas 2045

Harianpilar.com, Bandarlampung – Riuh tawa anak-anak memecah halaman SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Jumat (31/7). Puluhan siswa mengikuti senam pagi, bermain sepak bola, hingga bercengkerama di sela-sela kegiatan. Di balik suasana ceria itu, tersimpan misi besar: menyelamatkan generasi dari ancaman malgizi.

Melalui program JAPFA for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk tidak sekadar datang membawa bantuan telur. Perusahaan juga menghadirkan pendampingan, edukasi gizi, pembiasaan hidup bersih, serta pemantauan kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan intervensi.

Program ini berlangsung mulai Juli hingga Desember 2026 dengan fokus memperbaiki status gizi anak-anak yang terindikasi mengalami masalah gizi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama sebagai bagian dari pembiasaan hidup sehat menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Selanjutnya, para siswa diajak berdiskusi mengenai pentingnya makanan bergizi, kebiasaan makan di rumah, aktivitas fisik, mencuci tangan, serta menjaga kebersihan diri sebelum memasuki ruang kelas.

Bagi JAPFA, perubahan perilaku merupakan kunci utama. Karena itu, edukasi tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga melibatkan guru dan orang tua agar perubahan berlangsung secara berkelanjutan.

Perubahan itu mulai terlihat pada Akila, siswi kelas IV SDN 1 Budidaya yang menjadi salah satu penerima program.

Dengan wajah ceria, ia mengaku kini tidak lagi menghindari telur.

“Saya senang dan terima kasih kepada JAPFA. Sekarang saya jadi suka telur dan makannya selalu habis,” ujarnya singkat.

Cerita serupa disampaikan Rafika, orang tua Hatam, siswa kelas IV yang juga mengikuti program tersebut.

Menurutnya, sebelum mendapatkan pendampingan, sang anak sama sekali tidak menyukai telur.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai suka, walaupun memang masih harus dicampur dengan makanan lain supaya mau dimakan. Tapi sudah ada perubahan. Kami bersyukur setiap Jumat mendapat bantuan telur,” katanya.

Bagi para orang tua, perubahan kecil itu menjadi harapan besar terhadap perbaikan status gizi anak.

Kepala SDN 1 Budidaya, Andri Sugiarto, mengatakan sekolahnya bersyukur dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids.

Dengan jumlah 186 siswa, sekolah menyiapkan dua guru sebagai penghubung untuk memastikan seluruh rangkaian program berjalan optimal.

Selain pembagian telur, sekolah rutin melaksanakan senam bersama, pemeriksaan kebersihan kuku, pembiasaan mencuci tangan, serta mengundang orang tua siswa penerima manfaat agar proses pemantauan dilakukan secara bersama.

“Program ini baru pertama kali dilaksanakan di sekolah kami. Kami berterima kasih kepada JAPFA karena telah memilih SDN 1 Budidaya. Komunikasi dengan tim JAPFA juga sangat baik sehingga pelaksanaan program berjalan lancar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, telur dibawa pulang oleh siswa penerima manfaat agar konsumsi hariannya tetap dapat dipantau oleh keluarga di rumah.

Di lapangan, keberhasilan program turut ditopang para fasilitator. Debora mengatakan, timnya melakukan pendampingan dan monitoring di 15 sekolah yang menjadi lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids.

Ia berharap semakin banyak perempuan di desa ikut berdaya dalam mengawal program sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Tamara, fasilitator asal Sleman, Yogyakarta, alumni FISIPOL angkatan 2018, mengaku baru sebulan bergabung dalam program tersebut.

Menurutnya, tugas fasilitator bukan sekadar mendampingi kegiatan, melainkan menjadi penghubung antara sekolah, keluarga, dan JAPFA agar seluruh proses intervensi berjalan sesuai target.

“Selama ini tidak ada kendala berarti. Sekolah sangat mendukung dan menyambut baik program ini. Kami lebih banyak melakukan monitoring dan memastikan seluruh kegiatan berjalan dengan baik,” tuturnya.

Camat Sidomulyo, Fran Sinatra Adung, S.P., M.M., mengapresiasi kepedulian sektor swasta dalam mendukung peningkatan kesehatan anak.

Menurutnya, pemerintah memang memiliki Program Makan Bergizi Gratis, namun dukungan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial menjadi penguat upaya tersebut.

“Kami mengapresiasi JAPFA yang peduli terhadap kesehatan anak-anak. Mudah-mudahan semakin banyak perusahaan di Sidomulyo ikut berkontribusi sehingga semakin banyak anak yang tumbuh sehat,” katanya.

Di penghujung kunjungan, Social Investment Supervisor JAPFA, Sthumaidah, didampingi Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada pemberian bantuan.

Setiap bulan, JAPFA akan mengevaluasi perkembangan delapan anak yang menjadi sasaran intervensi. Perubahan berat badan, pola makan, hingga kondisi kesehatan akan terus dipantau sebagai indikator keberhasilan program.

“Kami akan terus memonitor dan mengevaluasi setiap bulan. Kami ingin melihat perubahan nyata terhadap delapan anak yang kami intervensi agar status gizinya semakin baik,” tegasnya.

Usai kegiatan, halaman sekolah kembali dipenuhi gelak tawa. Sebagian anak bermain sepak bola tanpa alas kaki, sebagian lain asyik memutar payung besar bersama teman-temannya. Ada pula yang duduk melingkar sambil bercanda menunggu bel masuk kelas.

Pemandangan sederhana itu menjadi gambaran tujuan utama JAPFA for Kids. Anak-anak yang sehat akan lebih aktif bergerak, lebih bersemangat belajar, dan tumbuh dengan bahagia.

Di tengah berbagai tantangan pemenuhan gizi anak, program ini menunjukkan bahwa membangun Generasi Emas Indonesia 2045 tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan bermula dari satu butir telur, satu kebiasaan hidup sehat, dan satu keluarga yang bersedia berubah. (Ramona).

Komentar