Harianpilar.com, Metro – Pimpinan Daerah Muhamadiyah (PDM) Kota Metro melalui Majelis Tabligh menggelar pengajian bulanan di Aula PDM Kota Metro pada Ahad (12 Juli 2026).
Acara ini menghadirkan mubaligh yang namanya sudah tidak asing lagi di Kota Metro dan sekitarnya, Ustadz Fir’adi, Lc., M.Sy. Agenda rutin ini dihadiri oleh jajaran Pleno PDM, Pleno PCM se-Kota Metro, Pimpinan Amal Usaha, serta Pimpinan Organisasi Otonom (Ortom).
Dalam pemaparannya, Ustadz Fir’adi mengingatkan bahwa kesantunan seseorang di masjid atau majelis taklim belum bisa menjadi ukuran mutlak kebaikan akhlaknya. Kebersamaan di tempat-tempat tersebut biasanya hanya berlangsung singkat, sekitar satu hingga dua jam.
Keluarga adalah pihak yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita, sehingga penilaian mereka menjadi yang paling akurat. Banyak orang yang bisa bersikap manis, murah senyum, dan royal kepada teman atau rekan kerja, namun berubah menjadi kikir, pemarah, dan pelit saat pulang ke rumah menghadapi anak istrinya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Imam At-Tirmidzi: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”
Ujian akhlak berikutnya muncul saat status sosial seseorang meningkat, baik karena jabatan, kemajuan usaha, maupun saat diangkat menjadi pegawai (seperti P3K). Di fase ini, kedewasaan diuji apakah ia akan berubah menjadi sombong dan ibarat “kacang lupa kulitnya” terhadap orang-orang yang dulu berjuang bersamanya.
Saat Terjadi Persengketaan atau Perbedaan Pendapat
Sifat asli seseorang kerap muncul ketika dihadapkan pada perselisihan. Orang yang semula ramah bisa berubah menjadi pemarah dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas. Fenomena ini tidak hanya melanda masyarakat awam, tetapi juga pemuka agama (para ustadz). Imam Al-Alusi dalam kitab tafsir Ruhul Ma’ani mengisyaratkan bahwa perselisihan di antara orang berilmu bisa memicu dampak egois jika tidak dibentengi dengan keikhlasan.
Finansial adalah penguji kepribadian yang sangat valid. Seseorang yang terlihat saleh ibadahnya bisa berubah total saat berurusan dengan utang atau kongsi bisnis. Banyak orang yang bersikap santun saat meminjam uang, namun menjadi lebih galak daripada yang meminjamkan ketika ditagih.
Kisah di zaman Umar bin Khattab (Radhiyallahu ‘Anhu) menceritakan ketika seseorang bersaksi bahwa si A adalah orang saleh, Umar bertanya: “Apakah engkau pernah bermuamalah harta (dinar dan dirham) dengannya?” Orang itu menjawab, “Belum.” Umar berkata, “Berarti engkau belum mengenalnya.”
Kelelahan fisik selama perjalanan jauh akan membuka topeng kepura-puraan, sehingga watak asli—apakah egois, pelit, atau peduli sesama—akan terlihat jelas. Hal ini pula yang ditanyakan Umar bin Khattab kepada saksi di atas mengenai apakah ia pernah bersafar bersama orang yang dipujinya. (Rls)










Komentar