Harianpilar.com, Bandarlampung- wajah dunia kerja, pendidikan, pertanian hingga sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Namun di balik kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap hilangnya lapangan pekerjaan, Prof. Dr. Muhammad Said Hasibuan, S.Kom., M.Kom., justru menegaskan bahwa AI bukan ancaman, melainkan mitra kerja yang mampu meningkatkan produktivitas manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Said dalam dialog bersama Radio Republik Indonesia (RRI) bertema “AI dan Pergeseran Pasar Tenaga Kerja”, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, kehadiran AI harus dipandang sebagai automation assistant atau asisten digital yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan secara lebih cepat, akurat, dan efisien.
“AI bukan musuh. AI hadir sebagai asisten yang membantu pekerjaan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien. Secara profesional, AI sangat membantu dalam layanan maupun proses produksi,” ujar Prof. Said.
Ia menjelaskan, pemanfaatan AI mampu mempercepat analisis data, memperluas wawasan, serta mendukung proses pengambilan keputusan di berbagai sektor strategis. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut terhadap perkembangan teknologi tersebut, melainkan harus beradaptasi dan memanfaatkannya secara optimal.
Dalam bidang pendidikan, Prof. Said menekankan pentingnya perguruan tinggi menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era digital. Menurutnya, kampus harus menjadi pusat pengembangan literasi AI, baik bagi dosen maupun mahasiswa.
“Kami di kampus sudah mulai membangun pemahaman tentang etika penggunaan AI. Jika dosen tidak mau beradaptasi, maka mereka berpotensi tertinggal oleh perkembangan zaman,” tegasnya.
Prof. Said menilai AI tidak menghilangkan pekerjaan, melainkan mengubah pola dan cara kerja. Sejumlah sektor bahkan memperoleh manfaat besar dari penerapan teknologi tersebut. Di bidang pertanian, AI mampu membantu pengelolaan rantai pasok (supply chain) yang lebih terukur dan efisien. Sementara di sektor pariwisata, teknologi AI dapat memperkenalkan destinasi wisata daerah kepada pasar internasional secara virtual.
Tak hanya itu, penguatan UMKM juga dinilai akan semakin cepat dengan dukungan AI. Pelaku usaha dapat melakukan riset pasar, promosi produk, hingga analisis tren konsumen dengan biaya lebih rendah dan waktu yang lebih singkat.
“Produk-produk UMKM kita bisa dipromosikan lebih luas dengan AI. Riset pasar yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini bisa dilakukan lebih cepat dan efisien,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Said juga menyoroti peluang besar yang dibawa AI dalam mendorong demokrasi ekonomi. Teknologi ini memungkinkan pelaku usaha dari daerah bersaing di pasar global tanpa harus meninggalkan daerah asalnya.
“Dengan AI, kita tidak perlu ke mana-mana, tetapi bisa hadir di mana saja. Kita bisa menjual potensi daerah, seperti keindahan laut atau produk lokal, langsung dari tempat asalnya,” ungkapnya.
Menurutnya, efisiensi biaya produksi dan peningkatan daya saing menjadi keuntungan utama dari pemanfaatan AI. Oleh karena itu, tenaga kerja masa depan harus memiliki kemampuan memahami dan mengendalikan teknologi agar tetap relevan dalam persaingan global.
“Yang perlu dilakukan adalah memahami fitur-fitur AI dan mengendalikannya. Manusialah yang tetap memegang kendali,” tegas Prof. Said.
Di akhir dialog, akademisi yang dikenal aktif mendorong transformasi digital tersebut mengajak masyarakat untuk tidak bersikap apatis terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, AI harus dipelajari dan dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup dan daya saing bangsa.
“AI bukan sesuatu yang menakutkan. Pelajari, pahami, dan implementasikan. Jangan dilawan, jangan apatis, karena kendali sepenuhnya tetap ada di tangan kita,” pungkasnya.
Dengan pesatnya transformasi digital yang terjadi saat ini, pesan Prof. Said menjadi pengingat bahwa masa depan bukan milik mereka yang menolak perubahan, melainkan mereka yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang baru. AI, pada akhirnya, bukan pengganti manusia, tetapi alat yang memperkuat kemampuan manusia dalam menghadapi tantangan zaman. (Ramona)










Komentar