Harianpilar,com.Bandarlampung – Kenaikan tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (Bakter) memicu perdebatan tajam di tengah masyarakat Lampung. Di satu sisi dinilai rasional dalam perspektif ekonomi publik, namun di sisi lain menambah beban biaya logistik dan memicu efek berantai terhadap harga barang.
Guru Besar Ekonomi Publik Universitas Lampung, Prof. Nairobi, menegaskan bahwa penyesuaian tarif memiliki dasar kuat melalui prinsip user pays principle, yakni pengguna membayar sesuai manfaat yang diterima.
“Penyesuaian berbasis inflasi juga penting untuk menjaga nilai riil investasi infrastruktur dan keberlanjutan proyek,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Berdasarkan kajian Universitas Lampung, tarif ideal Tol Bakter berada di kisaran Rp1.203–Rp1.600 per km untuk kendaraan golongan II–III dan Rp1.699–Rp2.200 per km untuk golongan IV–V. Dengan demikian, kenaikan sebesar Rp500 per km masih dinilai dalam batas kemampuan dan kesediaan bayar pengguna.
Namun, Nairobi mengingatkan adanya dampak paradoksal. Kenaikan tarif bisa meningkatkan kepuasan pengguna jika diiringi perbaikan layanan—mulai dari kualitas jalan, fasilitas rest area, hingga keamanan. Sebaliknya, tanpa peningkatan layanan, kebijakan ini justru berisiko menurunkan minat pengguna.
Dari sisi logistik, dampaknya tidak kecil. Untuk perjalanan penuh sepanjang 140 km, tambahan biaya mencapai Rp70 ribu per trip. Dalam setahun, beban bisa menyentuh Rp14 juta per kendaraan, yang berpotensi diteruskan ke harga barang dan membebani konsumen.
Risiko lain adalah peralihan kendaraan ke jalan non-tol. Jika terjadi, jalan arteri dan provinsi akan menghadapi lonjakan beban, mempercepat kerusakan, meningkatkan kemacetan, hingga memperbesar risiko kecelakaan. Dampak lanjutannya adalah meningkatnya beban fiskal pemerintah daerah.
Meski demikian, kenaikan tarif juga membawa peluang. Pendapatan tol dapat menopang pemeliharaan dan peningkatan kualitas infrastruktur, sekaligus menjaga minat investor dalam skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
“Jika dikelola dengan tepat, tarif tol bisa menjadi instrumen efisiensi dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan,” jelas Nairobi.
Untuk menekan dampak negatif, ia merekomendasikan kebijakan mitigasi seperti tarif diferensial bagi angkutan logistik dan umum, serta transparansi dalam penetapan tarif dengan melibatkan publik dan akademisi.
Evaluasi berkala terhadap dampak tarif terhadap lalu lintas, inflasi, dan kondisi jalan non-tol juga dinilai krusial agar kebijakan tetap adaptif.
Dengan pendekatan komprehensif, kenaikan tarif Tol Bakter diharapkan tidak sekadar menjadi beban, melainkan menjadi instrumen pembangunan yang adil dan berkelanjutan. (Ramona)










Komentar