oleh

Penemuan Kasus TBC Lampung Masih Rendah

Harianpilar, com. Bandarlampung-Pemerintah Provinsi Lampung  terus mendorong penuntasan kasus Tuberkulosis (TBC) secara menyeluruh, mulai dari penemuan kasus, pengobatan, hingga perbaikan kualitas hunian pasien.

Sebab berdasarkan data tahun 2026, penemuan kasus TBC di Lampung masih rendah. Hanya 11,3 persen atau 3.498 kasus dari target 30.475 kasus.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat memimpin Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Bantuan Renovasi Rumah Pasien TBC di Provinsi Lampung yang digelar secara virtual, Rabu (15/4/2026), sebagai tindak lanjut kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan di Lampung.

“Kita menjadi salah satu provinsi prioritas penanganan TBC, dan ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Artinya, penemuan kasus kita masih rendah dan harus segera kita tuntaskan,” tegas Jihan.

Berdasarkan data tahun 2026, capaian penemuan terduga TBC di Lampung baru mencapai 20,5 persen atau 26.789 kasus. Sementara penemuan kasus TBC hanya 11,3 persen atau 3.498 kasus dari target 30.475 kasus.

Meski demikian, tingkat keberhasilan pengobatan telah mencapai 90 persen. Namun, Jihan menilai hal itu belum cukup tanpa diimbangi dengan peningkatan penemuan kasus dan pelacakan kontak erat.

“Investigasi kontak masih di angka 37 persen, dan yang mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru 0,7 persen. Ini menunjukkan masih kurangnya keseriusan di beberapa daerah,” ujarnya.

Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota memperkuat Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) serta melakukan pencarian aktif terhadap pasien.

“Jangan menunggu pasien datang. Lakukan tracking, telusuri kontak erat, dan pastikan semuanya diperiksa serta mendapat terapi pencegahan,” tegasnya.

Dalam rakor tersebut, Jihan juga menyoroti pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari pemerintah pusat yang menyasar renovasi rumah pasien TBC agar memenuhi standar hunian sehat.

Program ini diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan miskin ekstrem yang masuk dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan kondisi rumah yang belum layak dari sisi ventilasi, pencahayaan, kepadatan hunian, dan sanitasi.

“Saya minta kabupaten/kota segera mengusulkan calon penerima bantuan BSPS paling lambat 20 April 2026. Koordinasi dengan seluruh stakeholder harus diperkuat,” kata Jihan.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan TBC menjadi perhatian serius pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, sehingga dibutuhkan langkah cepat dan terintegrasi di daerah.

“TBC ini menjadi fokus nasional. Saya minta dinas terkait aktif menjemput bola, memperbarui data, dan mempercepat penanganan di lapangan,” pungkasnya.

Langkah percepatan ini diharapkan mampu menekan angka penularan TBC sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sejalan dengan target eliminasi TBC nasional dalam beberapa tahun ke depan. (*)

Komentar