oleh

Jalan Seumur Jihan

Ini bukan kelakar. Bukan juga bualan. Ini nyata. Benar-benar terjadi.

​Bayangkan saja. Sebuah jalan rusak parah. Rusaknya awet. Saking awetnya, dari seorang bayi baru lahir, hingga bayi itu jadi Wakil Gubernur.

Melintasi enam periode kepemimpinan Gubernur. Enam periode Presiden. Dari zaman Orde Baru (Orba) hingga sepanjang era reformasi.

Betapa panjang penantian rakyat di sana. Puluhan tahun mereka akrab dengan jalan berlumpur.

Itulah yang di alami warga di ruas Gedong Aji–Umbul Mesir, Tulangbawang.

​Cerita itu terekam kamera. Saat Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela, berbincang dengan warga.

“Tiga puluh tahun saya menunggu,” kata seorang ibu. Lirih.

​Jawaban Jihan menyentuh hati. “Saya saja umurnya baru 31 tahun. Berarti sepanjang umur saya, jalan ini rusak.”

​Kalimat ini adalah otokritik. Sekaligus janji. Kerusakan jalan ini adalah beban sejarah. Dan beban sejarah itu harus dituntaskan sekarang.

​Kisah pilu soal jalan tak hanya di Tulangbawang. Di Padang Ratu, Lampung Tengah, kisahnya tak kalah menyayat.

Ada Albert. Tahun lalu saudaranya gagal mudik. Bukan tak ada ongkos. Tapi jalan menuju kampungnya lebih mirip kubangan.

​Niat hangat untuk berlebaran pun pupus. Keluarga pilih bertahan di Jawa. Jauh dari pelukan tanah kelahiran. Hanya karena jalan yang tak layak disebut jalan.

​Lalu ada Nur. Ia tak sanggup menahan haru. Matanya berkaca-kaca. Lima tahun ia melihat jalan itu dibiarkan jadi kubangan.

​Kini, kisah sedih warga mulai berganti. Pemerintah Provinsi Lampung bergerak cepat. Di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (RMD), jalan jadi super prioritas. RMD mulai menghapus suara lirih rakyat, jadi rasa syukur.

RMD tidak main-main. Ia konsisten. Ia tunjukkan keberpihakan pada rakyat. Ia tahu rakyat sudah kenyang dengan janji. Maka, ia bayar dengan kerja nyata.

​Jalan kini dibangun dengan rigit beton. Bukan aspal tipis yang mudah terkikis. RMD ingin kualitas.
Ia ingin manfaat jangka panjang. Bukan sekadar proyek sekali jadi.

Dari sisi anggaran. RMD menunjukkan keberpihakan pada rakyat yang luar biasa.

Anggaran jalan Lampung pecah rekor. Terbesar sepanjang sejarah. Rp1 Triliun lebih dikucurkan. Untuk memoles ruas jalan provinsi.

Kita patut bersyukur. Pilkada 2024 lalu melahirkan pemimpin yang tidak amnesia. Yang mudah lupa dengan janji.

Tapi melahirkan pemimpin yang konsisten merealisasikan janji kampanyenya.

Pilkada 2024, juga benar-benar malahirkan pemimpin yang tak sekedar muda, tapi muda yang visioner. Yang membangun bukan sekedar membangun, tapi membangun dengan multiefek.

Tugas pemimpin sudah dijalankan. Kini tinggal tugas kita. Mari jaga dan kawal. Agar jalan ini awet.

Agar tak ada lagi anak Lampung yang menunggu jalan bagus seumur hidupnya…Wallahu a’lam bish-shawab. (*)