oleh

MB Hidupkan JSS

​Wacana Jembatan Selat Sunda (JSS) mencuat lagi.

​Yang menyuarakannya bukan orang baru. Wajah yang sangat familiar di Lampung. Sosok from zero to hero. Benar-benar dari bukan apa-apa, sampai jadi apa-apa.

​Anak petani. Merangkak dari kader partai paling bawah. Jadi anggota DPRD. Jadi Wakil Bupati. Dua periode jadi Bupati. Dan kini, duduk di Senayan sebagai anggota DPR RI.

​Perjalanan karirnya mulus. Nyaris tanpa cela. Hanya jabatan Ketua DPD PDIP saja yang belum diraih. Berulang kali bertarung, di atas kertas hitungan selalu menang. Tapi saat penentuan namanya selalu hilang.

​Kali ini, Mukhlis Basri (MB) yang teriak lantang soal JSS.

Anggota DPR RI itu minta JSS masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Kita sebagai masyarakat Lampung? Jelas dukung.
Dari dulu juga dukung.

​JSS bukan barang baru. Ini mimpi lama masyarakat Lampung yang wacananya timbul tenggelam.

Sejak 1960, era Presiden Soekarno, Prof. Sedyatmo sudah punya visi Tri Nusa Bimasakti. Koneksi tiga pulau yakni Jawa, Sumatera, dan Bali.

Bahkan Bung Karno pernah perintahkan tes terowongan.
Pak Harto dan Habibie juga sempat melakukan kaji ulang, hasilnya jembatan lebih baik dari terowongan.

Zaman SBY dan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP, mimpi ini nyaris nyata. Perpres 86/2011 sudah terbit.
​Tapi apa yang terjadi? Lagi-lagi tenggelam.

​Sekarang, saat wacana ini hidup lagi, pasti akan pro-kontra lagi.

Bagi yang kontrak, pasti pakai aasannya itu-itu saja. Lagu lama, kaset kusut.

Takut gempa. Takut Anak Krakatau batuk. Takut rugi bandar.

​Padahal, kalau kita coba buka mata sedikit. Kita lihat realita di lapangan. Penyeberangan Merak-Bakauheni itu sudah jenuh.

Tiap Lebaran, kita disuguhi kemacetan horor. Bikin darah tinggi.

Cuaca buruk sedikit, kapal stop. Logistik mati total. Ekonomi Sumatera tersandera jadwal kapal dan ombak laut.

​Sampai kapan mau seperti itu?

Kita butuh kecepatan. Kita butuh kepastian.
​JSS bukan sekadar gagah-gagahan.
Ini soal merekatkan jalur ekonomi Jawa dan Sumatera.

Harus dipaksa nyambung biar meledak.
Bayangkan kalau arus barang lancar 24 jam. Tanpa antre. Tanpa mabuk laut.
Lampung bukan lagi cuma gerbang, tapi bakal jadi sentra raksasa.

Investor berebut masuk. Pabrik berdiri. Lapangan kerja bukan lagi mimpi.
​Soal teknis dan bencana?

Jangan jadikan alam alasan untuk menunda kemajuan.

Teknologi sipil sekarang sudah gila-gilaan canggihnya.

Lihat Jepang. Negaranya langganan gempa, jembatan mereka tetap tegak menantang langit.

Lihat China. Jembatan puluhan kilometer membelah laut lepas, aman sentosa.

Insinyur kita mampu. Sangat mampu.
Masalahnya cuma satu, ada duit dan kemauan politik tidak?

​Makanya, dorongan Mukhlis Basri ini masih sangat relevan. Wajib didukung total. Meski sangat berpotensi lagi layu sebelum berkembang.

Masuk PSN itu paling realistis. Biar ada payung hukum. Biar negara fokus. Biar anggarannya jelas.

Supaya tidak terus-terusan jadi wacana yang timbul tenggelam.

​Asa penyatuan Sumatera dan Jawa ini harus terus di jaga. Setidaknya bisa terus jadi wacana yang memberi harapan, bahwa ada jalan cepat pemerataan pertumbuhan ekonomi.

Jika benar JSS bisa masuk PSN, maka itu bisa jadi simbol peradaban baru. Semoga..Wassalam.